Ratusan Ular dan Kadal Disita di Bandara Soetta

Isty Maulidya, Okezone · Jum'at 05 Juni 2020 15:30 WIB
https: img.okezone.com content 2020 06 05 338 2225103 ratusan-ular-dan-kadal-disita-di-bandara-soetta-xH9bi8YOIE.jpg Petugas BKSDA memperlihatkan kadal yang disita polisi di Bandara Soekarno-Hatta (Okezone.com/Isty)

TANGERANG – Polisi menyita ratusan hewan liar dan reptil yang hendak diselundupkan ke Jawa. Penyitaan hewan yang dikirim dari Ambon, Maluku itu dilakukan di terminal kargo Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Tangerang, Banten.

Petugas mulanya mencurigai 4 koli barang di terminal kargo yang tidak dilengkapi Surat Angkut Tumbuhan Dan Satwa Liar Dalam Negeri (SATS-DN).

Wakapolresta Bandara Soekarno-Hatta, AKBP Yessi Kurniati mengatakan, barang disita berupa 153 ekor ular dan kadal. Rinciannya kadal soa layar 85 ekor, kadal panana 45 ekor, ular monopohon 20 ekor, dan ular patola halmahera 3 ekor. Ini bukan hewan langka, tapi apabila tidak diawasi peredarannya maka akan terancam punah.

"Ada empat jenis, yaitu ular monopohon, soa layar, kemudian ada ular patoa, dan kadal panana atau yang dikenal sebagai kadal lidah biru," kata Yessi, Jumat (5/6/2020).

 

Hewan itu disita, Kamis 4 Juni 2020 sore. Polisi ikut menangkap orang diduga pemilik reptil dan sopir pengangkut barang tersebut.

Polresta Bandara Soekarno-Hatta akan berkoordinasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) untuk melepaskan kembali hewan tersebut setelah penyelidikan usai.

Namun sebelum dikembalikan ke habitatnya, hewan tersebut akan dikarantina terlebih dahulu untuk penyesuaian.

"Setelah penyelidikan hewan ini akan dikembalikan ke habitat asal yang prosesnya akan diurus oleh BKSDA Jakarta," ujar Yessi.

Akibat perbuatannya, tersangka dikenakan Pasal 36 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 Juncto Pasal 57 dan atau Pasal 63 PP Nomor 8 Tahun 1999 tentang Pemanfaatan Satwa dan Tumbuhan Liar ancaman denda minimal Rp250 juta.

"Tersangka juga dikenakan pasal 87 UU RI Nomor 21 Tahun 2019 tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan dengan ancaman dua tahun penjara atau dendan maksimal Rp2 miliar," tutup Yessi.

(sal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini