3 Kecamatan di Bekasi Justru Rawan DBD di Tengah Transisi PSBB

Wisnu Yusep, Okezone · Kamis 25 Juni 2020 22:01 WIB
https: img.okezone.com content 2020 06 25 338 2236436 3-kecamatan-di-bekasi-justru-rawan-dbd-di-tengah-transisi-psbb-6u9M3pkOH0.jpg Kota Bekasi (foto: Okezone.com/Wisnu)

BEKASI – Tiga Kecamatan di Kota Bekasi masuk dalam kategori rawan demam berdarah dengue (DBD). Tiga kecamatan rawan DBD itu yakni Kecamatan Bekasi Utara, Kecamatan Bekasi Barat, dan Kecamatan Jati Asih.

"Berdasarkan catatan saat ini ada di tiga kecamatan itu yang tinggi," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Bekasi, Dezi Syukrawati kepada wartawan, Kamis (25/6/2020).

Titik rawan itu, kata Dezi, dilihat berdasarkan catatan kasus demam berdarah. Namun demikian, Dezi enggan menyebutkan jumlah kasus DBD di tiga kecamatan tersebut.

 dbd

Saat ini, kata Dezi, pihak Dinkes terus melakukan berbagai upaya pencegahan. Salah satunya, dengan menyemprotkan fogging di lingkungan rumah warga.

"Kami berusaha sesuai dengan aturan bukan karena permintaan, tapi karena memang di wilayah itu ada kasus. Kemudian ketika kami penyelidikan epidemiologi (PE) memang ada kemungkinan kasus di sana. Makanya kami lakukan penyemprotan," jelas dia.

Tak hanya itu, pihaknya juga melakukan sosialisasi untuk tetap lakukan 3M (menguras, menutup, mengubur) dan lakukan pola hidup sehat.

"Penyuluhan itu tetap mau di dalam atau luar gedung sambil kami bicarakan Covid-19 di luar sana kami tetap juga harus sampaikan terkait DBD," ujar dia.

 

Berdasarkan catatan Dinas Kesehatan Kota Bekasi, ada sekitar 684 kasus DBD di Kota Bekasi sejak awal tahun 2020. Tahun 2019 tercatat ada 701 kasus DBD di Kota Bekasi.

Meski begitu, Dezi mengakui bahwa angka DBD ini cenderung menurun dari periode sebelumnya. "Angka DBD periode sama itu menurun, 2020 itu 684 sedangkan 2019 itu ada 701," kata Dezi.

Dia menegaskan, kasus DBD mulai terlihat sejak awal Januari 2020. Ketika itu kondisi memasuki musim hujan dan Kota Bekasi mengalami bencana banjir.Dilihat dari data, kasus di 2020 peningkatan terjadi di April dan pada Mei kembali mengalami penurunan.

"Awal Januari-Februari mulai kasus DBD, dari situ kasus dari sedikit mulai bertambah di Maret-April dan mulai turun di bulan Mei- Juni," beber dia.

Meskipun di tengah situasi Covid-19, kata Dezy, Dinas Kesehatan Kota Bekasi tetap fokus dalam penanganan DBD. Mulai memberikan penyuluan dan melakukan penanganan pasien.

"Selain fokus covid kami juga fokus DBD. Kita lakukuan beberapa upaya seperti fogging di lokasi sesuai hasil penyelidikan epidemiologi," ujar Dezi.

Tim puskesmas juga, lanjut dia, rutin melakukan penyuluhan kepada warga terkait pola hidup sehat dan bersih serta pemantauan jentik nyamuk. Apalagi saat Covid-19, ada tim wilayah dari Dinas Kesehatan. Mereka selain bertugas melakukan penanganan Covid-19, juga terkait DBD.

"Walaupun sambil kita tangani covid tetap lakukan penyuluhan. Di covid ini kan ada tim wilayah, jadi mereka turun sambil beri penyuluhan DBD dan laporkan jika ada kasus agar dapat ditangani dengan cepat dan baik," ungkap dia.

Hingga saat ini belum ada warga yang meninggal akibat kasus DBD. Dezi pun berharap agar tidak ada angka kematian akibat DBD.

"Angka kematian tidak ada, semoga tidak ada jangan sampai ada," jelas dia.

Terakhir, Dezi mengingatkan masyarakat ikut berperan dalam mencegah kasus DBD. Seperti menerapkan pola hidup sehat dan bersih, khusus rajin melakukan 3M plus.

(wal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini