Angka Penularan Covid-19 di Jakarta Masih Tinggi, Penerapan New Normal Ditunda?

Fakhrizal Fakhri , Okezone · Selasa 30 Juni 2020 09:57 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 06 30 338 2238621 epidemiologi-ui-sebut-jakarta-belum-bisa-terapkan-new-normal-0W84l5ZBRX.jpg Ilustrasi new normal (foto: Okezone)

JAKARTA - Kepala Departemen Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) Tri Yunis Miko Wahyono mengatakan, setelah masa transisi fase I berakhir, Jakarta belum bisa memasuki fase normal baru (new normal). Alasannya, kata dia, kasus baru yang bertambah tiap harinya masih banyak.

"Jadi DKI pertambahan kasus barunya itu sekitar 100 sehari. Ini menunjukkan kasusnya masih banyak. Harusnya tidak new normal," kata Miko kepada Okezone, Selasa (30/6/2020).

Miko menjelaskan, saat ini Jakarta masih mencatat penambahan kasus penyebaran corona sekira 100 kasus per harinya. Bahkan, lanjut dia, ada 800 kasus yang terus bertambah setiap pekannya selama transisi PSBB.

"Per minggunya kasus maksimal di DKI itu 800, pada waktu pemeriksaan 10.000 spesimen di Indonesia, sekarang sudah 20.000, kemudian sekarang tetap saja kasus seminggunya," ujarnya.

Menurut dia, angka penularan corona di Ibu Kota masih banyak. Selain itu, angka positivity rate atau rasio kasus baru masih berkisar 5%.

"Dulu memang tinggi sekali, 9 persen, 7 persen, kemudian turun memang sekarang turun, tapi masih di atas 5 persen, ada 5,4 persen, ada pernah turun 4,8 persen. Jadi menurut saya positivity rate-nya masih sekitar 5 persen. Itu masih tinggi. Lihat saja di webnya DKI," jelasnya.

Seperti diketahui, masa transisi pembatasan sosial berskala besar (PSBB) transisi fase I di Jakarta akan berakhir pada Kamis 2 Juli 2020 mendatang.

(amr)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini