Dua Mahasiswa Unas Kena DO Imbas Demo Terkait Keringanan Biaya

Harits Tryan Akhmad, Okezone · Jum'at 10 Juli 2020 14:12 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 10 338 2244258 dua-mahasiswa-unas-kena-do-imbas-demo-terkait-keringanan-biaya-RgOZY2byzB.jpg Ilustrasi (Foto: Sindo)

JAKARTA - Sebanyak 10 mahasiswa Universitas Nasional (Unas) Jakarta diberikan sanksi drop out (DO) hingga skors usai menggelar aksi unjuk rasa di media sosial terkait keringanan biaya kuliah.

Ada dua mahasiswa Unas yang diberikan sanski drop out, mereka adalah Wahyu Krisna Aji dan Deodatus Sunda. Lalu ada dua mahasiswa mendapat sanksi skorsing dan enam lainnya mendapatkan peringatan keras.

Plt Humas Unas, Marsudi menerangkan, pemberian sanksi terhadap mahasiswa itu berdasarkan SK rektor nomor 112 Tahun 2014 tentang tata tertib kehidupan kampus bagi mahasiswa Unas.

“Betul, Unas telah melakukan pemecatan terhadap mahasiswa tersebut berdasarkan SK rektor nonomr 112 Tahun 2014 tentang tata tertib kehidupan kampus bagi mahasiswa,” kata Marsudi saat dikonfirmasi di Jakarta, Jumat (10/7/2020).

Sebelum menjatuhkan sanksi, kata Marsudi, pihaknya telah melakukan prosedur dengan melakukan pemanggilan terhadap oknum mahasiswa untuk dimintai klarifikasi atas unggahan di media sosial.

Hasilnya 80% mahasiswa yang panggil mengakui salah atas unggahan di media sosial dan meminta maaf serta menandatangani surat pernyataan tidak akan mengulangi.

“Namun oknum mahasiswa diberi sanksi skorsing hingga pemecatan ini mengulangi melakukan provokasi di media sosial dan melakukan tindakan-tindakan di luar kepatutan sebagai mahasiswa, serta melakukan tindakan anarkis, melakukan pengrusakan mobil dosen, membakar jaket almamater, melakukan penggembokan gerbang kampus dan pembakaran ban di depan kampus saat aksi,” imbuhnya.

Dikonfirmasi terpisah salah satu mahasiswa yang di-drop out yakni Krisna menjelaskan, bahwa aksi yang dilakukannya adalah merespon SK Rektor Nomor 52 Tahun 2020 tentang pemotongan biaya kuliah semester genap tahun akademik 2019/2020.

SK tersebut, lanjut dia, mengatur pemotongan biaya Rp 100.000 untuk terhadap 10.000 mahasiswa aktif. Sedangkan ada mahasiswa Unas yang aktif ada 13.477.

“Respon tersebut berbentuk kampanye media yang di posting serentak oleh mahasiswa Unas dengan hastag #UNASGAWATDARURAT. Lalu kampus merespon kampanye media tersebut dengan pemanggilan 27 mahasiswa yang terlibat dalam kampanye media pada 16 Mei 2020 untuk menghadap ke Komisi Disiplin Unas pada 10-12 Juni,” jelas Krisna.

Dalam pemanggilan yang mulanya bertujuan klarifikasi, namun menurutnya justru terdapat muatan intimidasi dan ancaman serta penandatangan surat pernyataan bersalah dan tidak akan mengulangi hal tersebut. Jika tidak, diancam akan di pidanakan dengan dalih pencemaran nama baik dalam UU ITE.

“Nah saya adalah salah satu mahasiswa yang tidak menandatangani surat pernyataan tersebut. Terhitung sudah 5 kali aksi dilakukan,” katanya.

Usai adanya peristiwa itu, Krisna pun mendapatkan surat SK Dekan Fisip Unas tentang pemberentian permanen statusnya sebagai mahasiswa. Surat tersebut pun langsung diterima oleh orang tuanya pada tanggal 9 Juli 2020.

“Surat tersebut berisi tentang pemberhentian dari status mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Unas secara Permanen, terhitung dari SK itu dikeluarkan. Selain itu, ada 1 mahasiswa bernama Deodatus Sunda SE yang turut di D.O oleh dekan FISIP. Lalu dua mahasiswa juga turut di skorsing dan 6 lainnya di beri peringatan keras,” terang dia.

Ia pun berharap Dekan Fisip Unas dapat mencabut seluruh saksi yang diberikan kepada mahasiswa tersebut.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini