Mengamuk Usai Siswa Titipan Tak Masuk, Ini Klarifikasi Lurah di Pamulang

Hambali, Okezone · Sabtu 18 Juli 2020 01:01 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 18 338 2248258 mengamuk-usai-siswa-titipan-tak-masuk-ini-klarifikasi-lurah-di-pamulang-hEeww60kmw.jpg Mediasi kasus lurah mengamuk di SMAN 3 Tangsel (Foto: Okezone/Hambali)

TANGERANG SELATAN - Lurah Benda Baru, Kecamatan Pamulang, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Saidun, meluruskan kabar mengenai aksinya di SMAN 3 pekan lalu yang berbuntut pada laporan polisi.

Saidun mengatakan, jika saat kejadian dia hanya menendang kaleng biskuit dan gelas yang berada di atas meja ruangan Kepala Sekolah, Aan Sri Analiah. Itu pun dilakukan, karena terpancing atas prasangka yang disampaikan pihak sekolah kepadanya.

"Saya malah dibilang, ada apa sih Pak Lurah? kok ngebelainnya sampai begini-begini bener? jangan-jangan ada apa-apa nih di belakang. Jadi ada sebuah kesan saya bermain-main, padahal kan memang saya nggak ada niat kesitu sama sekali," katanya kepada wartawan, Jumat (17/7/2020).

"Akhirnya apa yang saya lakukan, kalaupun seandainya saya ngamuk bukan ngamuk karena apa yang diberitakan teman-teman ya. Cuma biskuit kaleng, ini saya kasih tahu, ini air mineral botol, di sini ada kaleng, ada gelas mungkin di situ. Kaki melayang sudah nggak kuat, dari pada saya stroke," imbuhnya.

Baca Juga: Buntut Calon Siswa Titipan, Begini Kronologi Lurah Ngamuk di SMAN 3 Tangsel

Dilanjutkan Saidun, sebenarnya permintaan titipan siswa itu dilakukan semata-mata untuk menolong mereka yang berprestasi, namun tak memiliki dana cukup untuk mendaftar di sekolah swasta.

"Saya cuma masukin dua anak dari staf saya. Yang satu saya tarik (batal), karena sudah lolos di jalur prestasi. Tinggal yang satu anak sekuriti, nggak bisa masuk, makanya saya minta tolong, kenapa sih saya minta satu tapi nggak bisa," ucapnya.

Usai kejadian itu, Lurah Saidun lantas meminta maaf kepada Plt Kepsek Aan melalui pesan pribadi. Hanya saja, dia menuding ada pihak-pihak yang terpancing lantas mengompori Kepsek untuk membuat laporan ke polisi.

"Siapapun kalau ada atasannya diperlakukan seperti itu pasti emosi. Emosinya karena tidak tahu cerita, laporkan, laporkan. Ke depan, komunikasi dimulai dari begini. Ibarat kopi, diminum pahit tapi rasanya enak. Saya secara pribadi sudah meminta maaf, dan sudah dimaafkan," ucapnya.

Kasus ini masih ditangani Polsek Pamulang. Sejumlah saksi telah dimintai keterangan. Pihak kepolisian sendiri berjanji akan objektif dan profesional dalam menangani laporan ini meski terlapor adalah lurah setempat.

"Kita tangani profesional saja, setelah alat-alat bukti dan saksi-saksi cukup, maka kita lakukan pemanggilan," tutur Kapolsek Pamulang, Kompol Supiyanto.

Saat ini, kata Supiyanto, penyidik masih membutuhkan 2 saksi yang mengetahui saat kejadian. Polisi sendiri telah menerima laporan dari Aan beberapa hari usai kejadian. Namun belum ada pemeriksaan terhadap Saidun belum juga dilakukan.

"Sementara yang dilaporkan adalah tindak pidana pengrusakan terhadap barang dan perbuatan tidak menyenangkan, ancamannya di bawah 5 tahun," tandasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini