Cerita Kakek Nalim, Saban Hari Membelah Bambu di Sudut Kota

Hambali, Okezone · Kamis 30 Juli 2020 15:10 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 30 338 2254535 cerita-kakek-nalim-saban-hari-membelah-bambu-di-sudut-kota-oh3XeD2qb9.jpg Kakek Nalim pengrajin bambu di Tangsel. Foto: Hambali-Okezone

TANGERANG SELATAN – Kakek Nalim (70) merupakan sosok pengrajin bambu yang tinggal dan membuka lapak di salah satu sudut Kota Tangerang Selatan, tepatnya di Jalan Momonggor, RT 04 RW03, Setu.

Saban pagi hingga siang hari, Kakek Nalim sibuk membelah batangan bambu yang diambil dari kebun. Bambu-bambu itu dibelah sesuai permintaan, ada yang untuk pagar halaman, membangun balai saung, kandang ayam, bahkan terkini cukup banyak orang yang memesan bambu hitam guna dijadikan bahan kerangka layang-layang.

"Bisa macem-macem penggunaannya, kalau yang kemarin ini paling banyak minta buat bikin layangan. Jadi ada yang dari Pakulonan (Serpong Utara), Bintaro (Pondok Aren), pada datang ke sini, katanya sih bambu hitam bagus buat layangan," tuturnya kepada Okezone, Kamis 30 Juli 2020.

Kakek Nalim merupakan penduduk asli yang tinggal turun temurun di lokasi. Sejak remaja dia membantu keluarganya berdagang di pasar. Lalu sebagian waktu lain, digunakan untuk berkebun dan mengelola empang.

 

Begitu memasuki usia 65 tahun, Nalim memilih fokus memanfaatkan bambu-bambu dari kebun untuk dijual ke masyarakat. Meskipun sesekali dia tetap mengecek kebunnya dan mengambil buah-buahan yang bisa dijual.

Baca Juga: Kisah Penjual Sayur Miliki Putra Kuliah S-2 dan Jadi Imam Masjid di Amerika

"Kalau abis sholat dzuhur saya nggak keluar lagi, istirahat di rumah. Kalau ada waktu, sore ngecek ke kebon, kadang ada pisang diambil, kelapa diambil, apa aja," katanya.

Dia pun bercerita, banyak lahan yang dulunya berbentuk kebun, sawah, perlahan terus tergerus proyek pengembang properti. Banyak pemilik yang memilih menjualnya. Itulah sebab saat ini, pengrajin bambu sangat langka. Kalaupun ada, mereka telah pindah dan bergeser ke pelosok Kabupaten Tangerang.

"Kalau di kampung ini tinggal saya aja. Di sini tinggal yang jual-jualin bambu aja banyak, tapi yang ngerjain seperti saya begini udah nggak ada lagi," imbuhnya.

Baca Juga: Kisah Polisi Membagikan Sayur Gratis dari Kampung ke Kampung 

Meski hidup pas-pasan dari hasil menjual olahan bambu, Kakek Nalim enggan menjual kebun bambunya yang tersebar di 3 tempat. Setiap hari, pendapatan yang diperoleh dianggap masih mencukupi kebutuhan pokoknya beserta sang istri, Hj Mariah (60). "Ya saya merasa cukup aja dengan yang ada," ucapnya.

(abp)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini