Babak Baru Kasus Lurah Saidun, Status Tersangka Dicabut tapi Praperadilan Menunggu

Hambali, Okezone · Senin 31 Agustus 2020 15:48 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 31 338 2270264 babak-baru-kasus-lurah-saidun-status-tersangka-dicabut-tapi-praperadilan-menunggu-wVPbuMvX3C.jpg Mediasi kasus Lurah Saidun yang mengamuk di SMAN 3 Tangsel. Foto: Hambali

TANGERANG SELATAN – Polisi mencabut status tersangka dari Lurah Saidun yang terjerat kasus perusakan sebagai ujung dari kisruh penitipan siswa pada tahun ajaran baru 2020.

Polisi berdalih pihak SMAN 3 Tangerang Selatan (Tangsel) sebagai pelapor terhadap Lurah Benda Baru, Kecamatan Pamulang, itu telah sepakat untuk berdamai. Laporannya pun telah dicabut.

Kapolres Tangsel AKBP Iman Setiawan menerangkan pencabutan status tersangka dan penghentian kasus itu berdasarkan asas keadilan semua pihak, baik dari korban maupun pelaku yang menginginkan adanya perdamaian.

"Kita sudah menerima pencabutan, dan perdamaian di kedua belah pihak. Betul sudah ditetapkan tersangka (sebelumnya), proses hukum itu kan untuk mencapai keadilan. Namun bila ada kedua belah pihak dengan adanya perdamaian, keadilan kedua belah pihak tercapai, bisa kita hentikan penyidikannya," kata Iman di Mapolres Tangsel

Dilanjutkan Iman, pihaknya sejak awal tetap menjalani prosedur secara profesional. Pemeriksaan saksi-saksi, melengkapi pemberkasan, hingga menaikkan status menjadi tersangka. Dia pun menjamin kasus-kasus seperti itu terbuka untuk Restorative Justice atau pendekatan yang menitikberatkan pada terciptanya keadilan antara pelaku dan korban. "Kasus-kasus seperti ini kita selalu terbuka untuk restorative justice," jelasnya

Sementara Ketua LBH Keadilan Abdul Hakim Jauzie mengkritik penghentian proses kasus tersebut. "Berdalih ada perdamaian dan pencabutan laporan, polisi menghentikan penyidikan kasus tersebut, dan status tersangka Saidun pun dicabut. LBH Keadilan mengecam penghentian penyidikan kasus yang menjerat Saidun," ujarnya kepada Okezone.

Baca Juga: Kasus Siswa Titipan SMAN 3 Tangsel, Lurah Benda Baru Jadi Tersangka

Lurah Saidun sebelumnya dijerat Pasal 335 ayat (1) tentang perbuatan tidak menyenangkan dan Pasal 406 tentang perusakan. Polisi menetapkannya sebagai tersangka atas laporan perusakan di SMAN 3 pada Juli lalu sebagai buntut kisruh penitipan siswa.

Hamim berpendapat, dalam Pasal 335 ayat (1) kecuali pada butir 2 dan Pasal 406 bukanlah delik aduan, melainkan delik biasa atau delik murni. Sehingga apabila sudah masuk laporan, maka perdamaian para pihak atau pencabutan laporan oleh pelapor atau korban tidak dapat menghentikan proses perkara.

"Hal ini berbeda, jika yang terjadi masuk dalam delik aduan, apabila sudah masuk pengaduan maka bisa saja dicabut untuk menghentikan proses perkara. Delik biasa atau delik murni tidak bisa dihentikan oleh penyidik. Kecuali tidak adanya cukup bukti, perkara tersebut bukan merupakan tindak pidana, atau dihentikan demi hukum seperti dalam hal hapusnya kewenangan menuntut pidana," tuturnya.

Meskipun telah dilakukan perdamaian antara pihak SMAN 3 dengan Lurah Saidun hingga pelaporannya dicabut, maka seharusnya tidak memengaruhi jalannya penyidikan oleh pihak kepolisian. Apabila sudah cukup bukti, maka bisa segera dilimpahkan ke kejaksaan.

"Penghentian penyidikan yang dilakukan oleh pihak kepolisian jelas tidak sah menurut hukum acara pidana, dan itu menciderai rasa keadilan. LBH Keadilan mendesak Polsek Pamulang untuk tetap melanjutkan proses hukum atas kasus yang menyeret Saidun tersebut," jelas Hamim.

Baca Juga: Jadi Tersangka, Lurah Benda Baru Tak Ditahan

Sebagai bentuk kontrol terhadap pejabat publik, LBH Keadilan akan membuka babak baru kasus ini, yaitu dalam waktu dekat akan mengajukan permohonan praperadilan kepada Pengadilan Negeri (PN) Tangerang atas dihentikannya penyidikan tersebut. Hamim berpandangan, Saidun sebagai Lurah Benda Baru merupakan pejabat publik, dan barang yang dirusak juga merupakan barang milik publik yang tentu pengadaannya bersumber dari APBD.

"Sehingga LBH Keadilan memiliki legal standing untuk mengajukan permohonan praperadilan," tukasnya.

Kasus Lurah Saidun sendiri terjadi dipicu oleh persoalan siswa titipan saat penerimaan siswa baru. Merasa beberapa siswa titipannya tak juga diloloskan untuk masuk SMAN 3, Saidun mendatangi ruang Kepala Sekolah SMAN 3.

Emosi Lurah Saidun terpancing atas penjelasan pihak sekolah yang dianggap plin-plan menyanggupi permintaan siswa titipan. Spontan, Saidun menendang barang di atas meja. Aksi itu terekam kamera CCTV dan viral di media sosial.

Pihak SMAN 3 dan Lurah Saidun sudah dihubungi lewat telefon mengenai penghentian kasus ini, namun hingga sekarang belum ada respons.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini