Klaster Rumah Tangga Melonjak, Wisma Atlet Disiapkan untuk Isolasi Mandiri OTG

Kiswondari, Sindonews · Kamis 03 September 2020 15:29 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 03 338 2272097 klaster-rumah-tangga-melonjak-wisma-atlet-disiapkan-untuk-isolasi-mandiri-otg-RqYEVWdkIL.jpg ilustrasi: shutterstock

JAKARTA – Klaster rumah tangga akibat keterbatasan tempat tinggal dan tidak adanya pilihan tempat lain untuk melakukan isolasi mandiri juga menjadi perhatian Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19.

(Baca juga: Karyawan Pabrik Sparepart Mobil di Bekasi yang Positif Covid-19 Tembus 220 Orang)

Ketua Satgas Doni Monardo, telah berkomunikasi dengan pengelola Wisma Atlet untuk menyediakan tempat bagi masyarakat yang masuk kategori orang tanpa gejala (OTG) untuk melakukan isolasi mandiri di sana. Selain meminta Rumah Sakit (RS) Wisma Atlet untuk menampung pasien di RS rujukan di DKI.

“Kami berkomunikasi dengan Rumah Sakir Wisma Atlet menampung pasien dari rumah sakit rujukan sehingga, beban rumah sakit rujukan di DKI bisa berkurang,” kata kata Doni dalam Rapat Kerja (Raker) dengan Komisi VIII DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (3/9/2020).

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) ini juga meminta agar RS Wisma Atlet untuk menamping masyarakat yang kategori OTG dan gejala ringan untuk menyediakan tempat isolasi mandiri di sana.

“Masyarakat yang statusnya OTG dan gejala ringan namun karena rumahnya tidak tepat untuk isolasi mandiri. Rumah sakit Atlet maksimal mungkin menampung masyarakat untuk isolasi mandiri yang disiapkan Wisma Atlet,” terang Doni

Pihaknya juga sedang berupaya membuat interoperabilitas data, agar data terkait Covid-19 ini terintregasi dan menjadi dashboard seluruh daerah. Dan data itu nantinya harus digunakan daerah dan pimpinan Satgas di provinsi dan kabupaten/kota untuk melihat daerah mana yang masuk zona merah sehingga perlu meningkatkan kewaspadaan.

“Ketika meningkat dan merah maka yang ditekan rem, ketika daerah sudah berkurang maka gas bisa ditambah dan setiap daerah harus selalu melihat perkembangan yang terjadi,"ujarnya.

"Termasuk perkembangan harian perkembangan rumah mengalami peningakatan sehingga pimpinan daerah harus mewaspadai agar tidak terjadi kekhawatiran masyarakat atas tidak tersedianya rumah sakit,” paparnya.

Terlebih, Doni menambahkan, zona merah pun semakin lama semakin meningkat dan zona hijau, kuning dan oranye justru semakin berkurang bahkan, meningkat status.

“Semula zona merah 32 sekarang menjadi 65, begitu juga zona oranye, kuning dan hijau mengalami penurunan. Diperlukan kerja sama dari masyarakat di daerah, untuk meningkatkan kerja sama melibatkan instrumen yang ada sampai ke tingkat RT dan RW,” tutup Doni.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini