Share

Tangkap Sopir Angkot Bogor, Satpol PP: Maskernya di Dagu

Putra Ramadhani Astyawan, Okezone · Minggu 06 September 2020 13:00 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 06 338 2273366 tangkap-sopir-angkot-bogor-satpol-pp-maskernya-di-dagu-Rsx0tWmxvw.jpg Satpol PP tangkap sopir angkota karena tak tertib memakai masker. Foto: Putra Ramadhani Astyawan

BOGOR - Satpol PP Kota Bogor menjaring puluhan warga yang tak mengenakan masker di seputaran Balai Kota Bogor, Minggu (6/9/2020). Beberapa orang di antaranya langsung dikenakan denda Rp 50 ribu.

Kabid Dalops Satpol PP Kota Bogor Theo Patricio mengatakan dalam razia kali ini pihaknya mendapati sebanyak 35 pelanggar. Mereka terdiri dari pejalan kaki hingga sopir angkot dan penumpangnya. "Tadi total yang ditindak ada 35 orang," kata Theo, kepada Okezone di lokasi.

Dari jumlah tersebut, 15 orang dikenakan denda Rp 50 ribu dan harus membayarnya melalui bank yang telah ditentukan atas nama kas daerah. Kemudian, sisanya diberikan sanksi sosial karena tak mampu membayar.

"Denda rata Rp 50 ribu. Tapi kalau yang benar-benar tidak bisa bayar, kita beri sanksi sosial nyapu, hormat bendera, dan nyanyi lagu kebangsaan," jelasnya.

Baca Juga: Tak Ada CFD, Pesepeda Padati Bundaran HI di Libur Akhir Pekan Ini 

Sejauh ini, lanjut Theo, kesadaran masyarakat akan penggunaan masker di tempat umum sudah cukup tinggi. Namun, masih ada beberapa warga yang mengaku lupa khususnya para sopir angkot.

"Sudah cukup baik kesadarannya. Kebanyakan sopir angkot, mungkin dia abis makan atau ngerokok jadi maskernya di dagu, kadang dicopot," ungkap Theo.

Sanksi denda yang diberlakukan dalam razia masker ini diharapkan membuat efek jera dan menyadarkan masyarakat pentingnya protokol kesehatan. Semata, hal ini guna mencegah penularan covid-19.

"Sanksi ini sesuai Perwali 107. Kita harap masyarakat sadar pentingnya memakai masker di tempat umum demi diri sendiri dan orang lain," tutupnya.

Baca Juga: Pandemi Virus Corona, Tahanan di Turki Produksi 1,5 Juta Masker

Baca Juga: Sosialisasi Protokol Kesehatan di Jakarta dan Surabaya Harus Berbeda, Ini Alasannya

(abp)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini