Epidemiolog Perkirakan Puncak Kasus Covid-19 di Jakarta Akhir Oktober

Fakhrizal Fakhri , Okezone · Selasa 22 September 2020 06:01 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 22 338 2281559 epidemiolog-perkirakan-puncak-kasus-covid-19-di-jakarta-akhir-oktober-FKWtMR0apm.jpg Foto: Illustrasi Okezone.com

JAKARTA - Epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman memperkirakan, puncak kasus Pandemi Covid-19 di DKI Jakarta akan berlangsung hingga akhir Oktober 2020.

Meski demikian, ia mengatakan puncak pandemi di Indonesia belum bisa diperhitungkan karena setiap daerah mempunyai kurva kasus yang berbeda-beda.

"Untuk Jakarta ya (hingga akhir Oktober). Bukan Indonesia. Kalau untuk Indonesia belum bisa diprediksi. Indonesia itu negara kepulauan. Punya kurva pandemi yang berbeda. Saat ini yang aktif ada di Pulau Jawa yang menjadi epicentrumnya ada di Jakarta dan sekitarnya," kata Dicky saat berbincang dengan Okezone, Selasa (22/9/2020).

 Baca juga: Positivity Rate 12,8%, DKI Catat 1.310 Kasus Baru Corona

Menurut dia, masa rawan kasus Covid-19 di Ibu Kota diperkirakan hingga pertengahan Oktober. Sementara, pandemi Covid-19 di Tanah Air diperkirakan masih berlangsung lama karena setiap daerah memiliki kualitas yang berbeda-beda dalam pengendalian wabah corona.

"Wilayah Indonesia ini belum dalam posisi setara kualitas pengendalian pandeminya. Potensi adanya impor. Misalnya Jakarta terkendali di November akhir Oktober tapi ketika ada daerah lain kasus impor masuk Jakarta bebas, dan tidak terdeteksi itu jadi kasus kebakaran lagi," jelas dia.

 Baca juga: Sepekan PSBB, 1.670 Orang Tak Gunakan Masker Ditegur

Ia menganalogikan pandemi corona ini seperti kebakaran padang rumput. Sehingga, untuk mencegah kebakaran meluas pemerintah perlu membakar setiap pinggiran ilalang atau rumput di seliling kebakarannya agar api tak meluas.

"Selama penduduk Indonesia belum 70 persen belum memiliki kekebalan. Kebakaran kan kayak gitu, memahami wabah itu seperti kebakaran itu," tuturnya.

 

Dicky menerangkan, membakar pinggiran padang rumput tersebut seperti kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

"Jadi yang diproteksi itu ya pengetatan perbatasan. Jadi kalau diperbatasan (tidak diperketat) orang masuk ya kebakaran terus," imbuhnya.

Dia juga mencontohkan kebijakan di Brisbane, Australia tempat tinggalnya saat ini. Di sana, lanjut Dicky, negara bagian Australia itu melakukan pembatasan setiap orang yang ingin masuk ke kota dengan karantina selama 14 hari.

"Orang dikarantina dulu dua Minggu. Karena kalau tidak begitu kapan beresnya pandemi ini. Ya sekarang mulai terkendali," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini