Ribuan Detektif Diturunkan untuk Lacak Kasus Covid-19 di Bogor

Binti Mufarida, Sindonews · Kamis 24 September 2020 14:59 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 24 338 2283086 ribuan-detektif-diturunkan-untuk-lacak-kasus-covid-19-di-bogor-ewKYjiTw8V.jpg ilustrasi: Okezone

JAKARTA - Pemerintah Kota Bogor menurunkan 1.167 personel yang bertugas sebagai detektif Covid-19. Hal ini bertujuan untuk melacak persebaran Corona di Kota Bogor. Tim ini dibentuk di tingkat kecamatan dan kelurahan.

(Baca juga: Heboh! Jenazah Perempuan Dimandikan 4 Petugas Pria di RSUD)

Tugasnya para detektif Covid-19 tersebut adalah melakukan pelacakan kontak kasus positif dalam waktu 2x24 jam. Dilanjutkan dengan melakukan penilaian kemampuan isolasi mandiri, memanfaatkan rumah isolasi dan fasilitas rujukan kasus ke Rumah Sakit.

“Jadi kuncinya saya kira ya dari penanganan Covid-19. Di Bogor ini yang kita sebut detektif Covid-19. Ini kita cek terus jadi di setiap RW ada ini,” kata Wali Kota Bogor, Bima Arya dalam diskusi virtual bertema 'Menjaga Masyarakat Produktif dan Aman di Masa Pandemi' di Jakarta, Kamis (24/9/2020).

Lebih lanjut dia mengatakan, dalam mitigasi infeksi Covid-19 di Kota Bogor, pihaknya fokus menggunakan upaya Pembatasan Sosial Berskala Mikro (PSBM) di tingkat RW.

“Dan kita juga fokus kepada mikro yang kita sebut PSBM. Jadi bagaimana kita, energi kita, anggaran kita fokus kepada RW berskala mikro,”ucapnya.

“Jadi yang sering saya sampaikan jangan mengebom nyamuk dengan meriam cukup kita bidik titik-titik yang merah-merah, titik yang merah inilah yang treatment-nya super ketat. Di titik merah ini kita kurangi aktivitas warga. Jadi kalau di RW merah, maka tidak boleh pengajian, ibadahnya ditutup sementara dan dilakukan penjagaan secara ketat,” tegasnya.

(Baca juga: Meninggal Terkena Covid-19, Ini Wasiat Istri Mantan Wali Kota Jakarta Barat)

Saat ini yang perlu dilakukan kata Bima dalam mencegah penyebaran Covid-19 adalah pengawasan protokol kesehatan yang ketat.

“Kita melihat bahwa yang diperlukan sekarang adalah pengawasan protokol kesehatan,”ucapnya.

Dia menjelaskan, ketika DKI Jakarta memutuskan kembali menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar, maka Kota Bogor harus segera mengantisipasi. Pasalnya, akan banyak warga Jakarta yang bepergian ke Bogor ketika misalnya restoran di Jakarta ditutup.

“Jadi kemarin Jakarta memberlakukan kebijakan PSBB, kita antisipasi. Begitu restoran di Jakarta tutup semua akan sangat penting kemudian orang-orang Jakarta ke Bogor. Nah karena itu ini yang harus kita kelola. Tidak mungkin di kota Bogor kemudian menyatakan tertutup dari orang Jakarta. Oleh karena itu orang Jakarta disiplin protokol kesehatan,” kata Bima.

Lantas, bagaimana cara agar disiplin protokol kesehatan tetap dijalankan di tempat umum salah satunya restoran? Bima mengatakan pihaknya telah membentuk Tim Elang untuk patroli protokol kesehatan.

“Bogor membentuk tim Elang, tim ini isinya adalah Pemuda, ada KNPI disini, ada Karang Taruna disini, ada juga HIPMI yang kemudian disupervisi oleh TNI, Polri dan Satpol PP. Jadi mereka melakukan pengawasan di restoran-restoran. Kalau melanggar ya pasti akan ditindak. Bahkan bisa diberikan sanksi denda atau kita tutup dan segel,” tutupnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini