Tangkal Covid-19, Anies Minta 60 Persen Warga Jakarta di Rumah Saja

Fakhrizal Fakhri , Okezone · Kamis 24 September 2020 17:34 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 24 338 2283195 tangkal-covid-19-anies-minta-60-persen-warga-jakarta-di-rumah-saja-tuxX8NDZSE.jpg Foto: Okezone

JAKARTA - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyebut kasus penularan harian Covid-19 di Ibu Kota telah mengalami pelandaian setelah kebijakan rem darurat dengan kembali menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Hal tersebut diketahui melalui grafik kasus onset (disesuaikan dengan tanggal penularan) dan juga pada nilai Rt atau reproduksi virusnya. Pada awal September, nilai Rt Jakarta adalah 1,14 dan saat ini berkurang menjadi 1,10. Artinya, 100 orang berpotensi menularkan virus kepada 110 orang lainnya. Untuk itu, penularan harus terus ditekan hingga nilai Rt di bawah 1,00.

(Baca juga: Disetujui Luhut, Anies Baswedan Perpanjang PSBB Total)

"Pergerakan penduduk jelas berpengaruh pada peningkatan penularan virus. Semakin tinggi pergerakan penduduk, semakin tinggi penularan virus. Pelandaian yang mulai tampak belakangan ini juga seiring dengan peningkatan jumlah penduduk yang tetap berada di rumah saja," kata Anies dalam keterangannya, Kamis (24/9/2020).

Anies mengatakan, bahwa berdasarkan kajian tim Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) diperlukan sedikitnya 60% warga untuk di rumah saja dalam mengendalikan kasus Covid-19.

(Baca juga: Meninggal Terkena Covid-19, Ini Wasiat Istri Mantan Wali Kota Jakarta Barat)

"Diperlukan minimal 60% penduduk diam di rumah saja agar penularan wabah melandai dan mulai berkurang. Saat ini, masih sekitar 50% penduduk diam di rumah saja," jelas Anies.

Mantan Mendikbud itu menegaskan peningkatan kasus masih terus perlu ditekan kendati telah menunjukkan tanda awal pelambatan.

Tanpa pembatasan ketat dan dengan tingkat pengetesan tetap seperti saat ini, pertambahan kasus harian di Jakarta diprediksi akan mencapai 2.000 per hari pada pertengahan Oktober, sedangkan kasus aktif akan mencapai 20.000 pada awal November.

Seperti diketahui, jumlah orang dites di Jakarta terus meningkat seiring dengan bertambahnya kapasitas testing. Hingga 23 September, Jakarta telah melakukan tes PCR terhadap 857.863 orang atau 80.588 orang per sejuta penduduk.

Kapasitas tes di Jakarta per minggu lebih dari 6 kali lipat standar WHO, yang mana WHO menetapkan standar jumlah tes ideal bagi setiap wilayah sebanyak 1 orang per 1.000 populasi setiap minggu.

Seiring peningkatan kapasitas, tingkat keterpakaian ruang isolasi dan ICU khusus Covid dapat dijaga walaupun kasus aktif juga meningkat. Tingkat keterpakaian perlu ditekan ke angka <60% sesuai rekomendasi WHO.

Dari jumlah tempat tidur isolasi sebanyak 4.812, hingga 23 September, persentase keterpakaiannya sebesar 81%. Sedangkan, dari jumlah tempat tidur ICU sebanyak 695, hingga 23 September, persentase keterpakaiannya sebesar 74%.

Pemprov DKI Jakarta bekerja sama dengan rumah sakit pusat, TNI/Polri, BUMN, dan Swasta untuk meningkatkan kapasitas tempat tidur. Namun, usaha menekan pertambahan kasus aktif juga perlu terus dilakukan supaya tidak berkejaran dengan kapasitas fasilitas kesehatan. Karena itu, diperlukan perpanjangan pengetatan PSBB selama dua minggu ke depan agar kasus Covid-19 dapat turun secara signifikan.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini