Penjelasan Balai TNGHS soal Fenomena Gunung Salak Terbelah

Haryudi, Koran SI · Senin 28 September 2020 15:04 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 28 338 2284943 penjelasan-balai-tnghs-soal-fenomena-gunung-salak-terbelah-MMjk5rFXoW.jpg Foto dari dekat longsor di Gunung Salak. (Foto: Balai TNGHS)

BOGOR - Beredarnya video dan foto tentang Gunung Salak terbelah tepat di perbatasan Kabupaten Bogor dan Sukabumi, ternyata bukan semata-semata akibat longsor.

Pasalnya, petugas lapangan yang mengecek informasi tersebut banyak menemukan fakta mengejutkan dari rimba Gunung Salak.

Hal tersebut diungkapkan Kepala Seksi SPTNW III Sukabumi Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), Pitra Panderi saat dikonfirmasi melalui ponselnya tentang fenomena Gunung Salak terbelah, Senin (28/09/2020).

Menurutnya, dari hasil tinjauan di lapangan beberapa hari terakhir, tidak ditemukan adanya dugaan illegal loging (pembalakan liar), sebagai penyebab Gunung Salak longsor hingga terbelah. 

"Yang jelas kita sudah melakukan pengecekan di lapangan, itu terjadi tepat di hulu Sungai Cikedung dan masuknya Kabupaten Bogor, yaitu Desa Pasir Jaya, Kecamatan Cigombong. Memang ada longsoran, kita cek tidak ada illegal loging," ungkap Pitra.

Foto: Balai TNGHS

Pitra mengaku sudah menelusuri panjangnya longsoran, dari Puncak Salak 3 hingga ke bawah, jaraknya sekitar 2-3 kilometer. Sehingga dari kejauhan terlihat Gunung Salak terbelah.

"Kita sudah cek di atas ketinggian 600 meter di atas permukaan laut (MDPL), memang saya tidak sampai ke atas lagi karena enggak kuat, tapi secara (kasat mata) pantauan fakta tidak ada illegal logging," ujarnya sebagai bentuk penegasan bahwa dugaan illegal loging tidak ada. 

Baca juga: Waspada, Kawasan Gunung Salak Dilanda Longsor

Menurutnya, longsor di Gunung Salak yang masuk wilayah administrasi tiga wilayah (Kabupaten Bogor, Sukabumi, Jawa Barat dan Lebak, Banten) ini jadi yang terpanjang.

"Sebetulnya ini kejadian longsornya berbarengan dengan di Desa Cibuntu, Cicurug, Kabupaten Sukabumi, yang diduga karena tingginya curah hujan menimbulkan penumpukan air di sebuah tanah yang labil hingga akibatnya terjadi longsor," ucapnya.

Sebab, lanjut dia, longsor di Gunung Salak yang masuk resort Pengelolaan Taman Nasional Wilayah (PTNW) Salak 1 Bogor ini juga masih dalam satu landscape dengan Cibuntu.

"Hanya beda Daerah Aliran Sungai (DAS) saja, yang Cibuntu, Sukabumi itu masuknya DAS Cimandiri, sedangkan yang longsoran Pasir Jaya, Cigombong (Gunung Salak Terbelah) ini masuknya DAS Ciliwung-Cisadane," katanya. 

Pihaknya berharap, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) segera melakukan kajian. 

"Sebab, Gunung Salak ini masuk strato volcano atau gunung salak aktif. Sehingga kita inginnya ke depan ada kajian menyeluruh, tentang penyebab Gunung purba ini. Disebut ada enggak disebabkan geologi kepurbakalaan itu harus ada kajian lagi," paparnya.

Pihaknya juga mengaku bingung panjang longsoran ini dari ujung Puncak Salak 3 hingga ke bawah terlihat lurus. "Yang jelas dari segi kehutanan tidak ada tanda-tanda akibat illegal loging, untuk sementara itu. Tapi kalau yang sesungguhnya saya belum bisa memastikan," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini