Kasus Covid-19 di DKI Fluktuatif, Epidemiolog Sebut Sudah Kritis Sebelum PSBB

Fakhrizal Fakhri , Okezone · Kamis 01 Oktober 2020 09:01 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 01 338 2286493 kasus-covid-19-di-dki-fluktuatif-epidemiolog-sebut-sudah-kritis-sebelum-psbb-d8ZYZ3Sxwq.jpg Foto: Illustrasi Shutterstock

JAKARTA - Epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman menerangkan, kasus Covid-19 di DKI Jakarta masih berlangsung fluktuatif setelah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), karena masih kritisnya kondisi pandemi virus corona di Ibu Kota dan daerah penyanggah.

"Kondisi DKI dan wilayah penyanggahnya ini memang sudah kritis sebelum waktu PSBB. Kondisi ini tidak akan selesai dalam waktu satu atau dua bulan," kata Dicky kepada Okezone, Kamis (1/10/2020).

 Baca juga: Razia PSBB di Kampung Boncos, Polisi Malah Temukan Sabu & Granat Aktif 

Dia menjelaskan, penerapan PSBB perlu dilakukan dengan dosis yang optimal dengan mengajak pemda penyanggah untuk menerapkan PSBB secara ketat.

"Karena kalau hanya DKI saja tidak efektif, dan hanya kembali berulang. Karena ada kasus impor lokal, yang terus terjadi," jelasnya.

 Baca juga: Perda Covid-19, Pemprov DKI Gunakan Pendekatan Sanksi Administrasi 

Dicky menerangkan, kasus Covid-19 Ibu Kota bisa tidak terkendali setelah satu sampai tiga orang saja menularkan virua corona di masyarakat.

"Saat ini yang perlu dilakukan tidak hanya DKI, tapi harus daerah penyenggah. Saat ini kan belum terjadi, jadi sangat wajar bila kasus ini masih dinamis walaupun ada penurunannya," imbuhnya.

 

Menurut dia, PSBB secara ketat yang telah berlangsung lebih dari dua pekan tersebut tidak bisa dirasakan dampaknya secara instan.

"Jadi apa yang dilakukan dalam dua Minggu itu, tidak langsung dilihat dalam dua Minggu itu juga. Bisa dilihat juga dua Minggu setelahnya. Itu pun jika dilakukan secara optimal. Kalau tidak, tidak akan terjadi," tuturnya.

Ia menambahkan, saat ini 90% warga DKI Jakarta masih rawan untuk tertular Covid-19.

Sehingga, kata dia, Pemprov DKI Jakarta sebaiknya melakukan program esensial dalam penanganan pandemi Covid-19 dengan melakukan tracing, tracking, dan isolasi/karantina bila daerah penyanggah tidak kunjung menerapkan PSBB total.

"Kasus masih akan terjadi. Sehingga yang dilakukan peningkatan kapasitas dan program esensialnya testing, tracing, karantina, dan perubahan prilaku. Strategi tambahan ini harus dilajukan dengan matang. Karena jika tidak semua bersinergi ya lebih baik kata saya, memilih penguatan strategi esensial saja," tandasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini