Warga Bogor Diminta Waspada 3 Fenomena Cuaca

Haryudi, Koran SI · Rabu 21 Oktober 2020 14:08 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 21 338 2297184 warga-bogor-diminta-waspada-3-fenomena-cuaca-2LsJBs4yHw.jpg Wali Kota Bogor Bima Arya pantau titik nol kilometer Sungai Ciliwung. (Foto : Dok Pemkot Bogor)

BOGOR – Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto mengaku baru pertama kali mengunjungi titik nol kilometer Sungai Ciliwung yang terletak di Telaga Saat, kawasan Cisarua, Kabupaten Bogor.

Hal tersebut diungkapkan Bima Arya saat mengikuti kegiatan siaga bencana hidrometeorologi bersama Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Doni Monardo, Wakil Gubernur Jawa Barat Uu RUzhanul Ulum, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati, Bupati Bogor Ade Munawaroh Yasin, Komandan Jenderal (Danjen) Kopassus, Mayjen TNI Mohamad Hasan, Selasa (20/10/2020).

Dalam tinjauannya itu, Bima Arya besama para pejabat lainnya di titik nol kilometer Sungai Ciliwung itu menanam bibit vetiver dan pohon keras serta menebar benih ikan.

“Saya baru pertama kali ke titik nol kilometer Ciliwung. Perubahan yang dahsyat telah terjadi di sini, di titik ini. Ini menjadi simbol kepedulian kita semua terhadap sungai dan alam. Ini semua tidak terlepas dari peran Pak Doni ketika menjadi Pangdam dan Pak Hasan ketika menjadi Danrem di sini,” ucap Bima Arya.

Ia menambahkan, peran yang dilakukan dulu menjadi sangat relevan apalagi di tengah pandemi seperti sekarang.

“Ketika back to nature di tengah pandemi ini, Pak Doni telah melakukan kampanye massif yang saya kira luar biasa. Bagaimana kita menghargai alam, kembali ke alam. Habluminannas kurangi sedikit, Habluminallah tidak boleh berkurang, tetapi Habluminalalam atau cinta kepada alam harus kita gejot terus,” kata Bima.

Dalam kesempatan yang sama, Doni Monardo menyatakan Telaga Saat ini pada periode 2018 awal masih ditutupi dengan gulma. Bahkan, sekitar 85 persen itu daratan, hanya 15 persen saja yang terdiri dari air.

Wali Kota Bogor Bima Arya saat tinjau titik nol kilometer Sungai Ciliwung. (Foto : Dok Pemkot Bogor)

“Danjen Kopassus ini hadir di sini sekarang bukan sebagai Danjen. Tetapi sebagai mantan Danrem 061/Suryakencana yang merintis, memulai program untuk pemulihan Telaga Saat," katanya.

"Jadi kehadiran beliau sebagai pelopor bersama dengan tim relawan bela alam. Terima kasih kepada Jenderal Hasan bersama tim relawan yang telah bekerja keras sehingga Telaga Saat yang tadinya tidak terlihat air, sekarang ini bisa menjadi indah,” ujar Doni.

Mudah-mudahan, lanjut Doni, perubahan Telaga Saat bisa menjadi inspirasi bagi banyak komunitas di seluruh Indonesia untuk lebih memperhatikan lingkungan, terutama sumber mata air.

“Air adalah sumber kehidupan, sungai adalah peradaban bangsa. Maka kita menjadi bangsa yang beradab dengan cara menjaga mata air agar kelak tidak menjadi air mata,"

"Dan juga menjaga sungai-sungai kita agar sungai bisa menjadi tempat yang menyenangkan, bisa memberikan penghidupan bagi masyarakat di sepanjang sungai,” terangnya.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam kesempatan tersebut juga menyampaikan adanya potensi terjadinya curah hujan tinggi, ditambah pada minggu-minggu ini akan terjadi fenomena cuaca secara bersamaan.

“Berdasarkan prediksi dan data suhu muka air laut yang berada jauh di samudra pasifik, dampaknya bisa sampai ke Bogor. Suhu muka air laut di Samudera Pasifik mengalami anomali. Saat ini sudah minus hampir mencapai 1 derajat celcius,"

"Sementara suhu muka air laut di kepulauan maritim Indonesia hangat. Maka terjadilah gap antara suhu muka air laut di Samudera Pasifik bagian tengah ekuator dengan Kepulauan Indonesia,” katanya.

“Fenomena ini disebut La Nina. Kebetulan saat ini sedang mengalami peningkatan curah hujan. Artinya, terjadi double. Tidak ada La Nina saja Bogor ini juara, selalu curah hujannya tinggi. Apalagi terjadi La Nina. Dampak peningkatannya bisa mencapai 20 persen hingga 40 persen,” ujar Dwikorita.

Tidak itu saja, lanjut dia, pada pekan ini akan masuk juga gelombang awan dari sebelah timur Afrika Selatan memasuki wilayah Indonesia yang disebut fenomena Madden Julian Oscillation (MJO).

Baca Juga : Antisipasi Dampak La Nina, Doni Monardo Tinjau Titik Nol Kilometer Sungai Ciliwung

“Artinya di minggu ini ada 3 fenomena bersinergi. Bersinergi ya itu fenomena La Nina, fenomena MJO, dan fenomena curah hujan aslinya di Bogor," katanya.

"Untuk itu mari kita jaga alam, alam akan jaga kita. Maka kita mengantisipasi potensi terjadinya hujan dengan intensitas tinggi, puncaknya di bulan Desember, Januari, Februari. Tetapi khusus minggu ini, meskipun belum memasuki puncak, ada tiga faktor yang bersinergi tadi. Semoga penghijauan ini dapat membantu kita semua,” tandasnya.

Baca Juga : Antisipasi La Nina, Kepala BNPB: Mitigasi Nonstruktural Paling Penting!

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini