Ekploitasi Anak di Tambora, Dipaksa Ngelem & Mencuri

Mohamad Yan Yusuf, Sindonews · Rabu 11 November 2020 16:54 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 11 338 2308015 ekploitasi-anak-di-tambora-dipaksa-ngelem-mencuri-DMIIjIRVQT.jpg Foto: Illustrasi Shutterstock

JAKARTA - Berulang kali disiksa, Rido Rhoma (10), akhirnya bisa bernafas lega. Kini derita siksa, paksaan mencuri, hingga konsumsi narkoba tak lagi diterima, ia pun kini sedikit kembali ceria.

Anak yatim piatu itu ditemukan di kolong tol fly over pasar pagi, Tambora, Jakarta Barat bersama kakak beradik, Riki Maulana (9) dan Nabila (5). Saat ditemukan ketiganya tampak menangis tersedu dipinggiran kolong.

“Kalau enggak maling, saya dipukulin terus,” kenang Rido didampingi petugas P3RS Sudinsos Jakbar di Penampungan Gelandangan, Cengkareng Barat, Cengkareng, Jakarta Barat, Rabu (11/11/2020).

Baca juga:

Petugas PPSU Selamatkan 3 Bocah Korban Eksploitasi di Jakbar 

 Komnas PA Minta Polres Jakbar Usut Eksploitasi Anak di Tambora   


Tubuh Rido dipenuhi luka memar, rambut depannya sedikit berpitak setelah dicukur oleh pria dewasa yang suka menyiksa. Sesekali, mereka dipaksa untuk ngelem mengkonsumsi sabu sebelum mengamen. Dengan tubuh meringkih Rido hanya gemetar ketakutan.

“Di sekitar Senen, aku dipukul di tempat gelap. Waktu itu aku disuruh maling, aku engga mau, tapi abang itu mukul aku terus,” ucap Rido sembari perlihatkan tangannya yang memar.

Usai dipukul membabi buta, pria dewasa yang berciri tato bintang di pelipis matanya ini memaksanya untuk mengelem, di bawah ancaman kembali disiksa, ia bersama Nabila dan Riki akhirnya menuruti.

Saat terkapar karena mabok, ketiganya malah ditinggalin dan sadar di kawasan Pasar Pagi disanalah ketiganya lantas bertemu petugas PPSU yang menyelamatkannya.

Hampir sebulan lamanya ketiga ikut sama pria yang tak diketahui namanya ini. Mereka kerap kali dipaksa nyabu saat malam, namun ketiga menolak. Siksaan kemudian harus diterima mereka.

“Aku enggak mau nyabu, aku mau sekolah,” timpal Riki.

Riki sendiri tak bisa berbuat banyak dengan kondisi ini. Menurutnya, ia hanya rindu dengan orang tuanya yang tinggal di Kemayoran, Jakarta Pusat. Namun untuk letak pasti rumahnya, Riki tak hafal pasti.

“Aku enggak pernah main jauh,” katanya.

Petugas P3S, Amelia Putri mengatakan pihaknya telah mencoba mengobrol terhadap ketiganya. Dari situ, diketahui orang tua Rido telah meninggal, sementara Riki dan Nabila masih belum jelas keberadaanya.

“Yang pasti mereka tinggal di Kemayoran,” katanya.

Menelusuri itu, sejak siang tadi pencarian dilakukan petugas P3S, Informasi tentang si ayah yang bekerja sebagai satpam pom bensin, dan ibunya tukang kopi keliling di telusuri.

“Kalau Rido tak punya famili, kemungkinan untuk pembinaan ke panti sosial bina insan I Kedoya,” tutup Amalia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini