16 Jam Susur Sungai Ciliwung, Ini Temuan Bima Arya

Putra Ramadhani Astyawan, Okezone · Kamis 12 November 2020 02:42 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 12 338 2308207 16-jam-susur-sungai-ciliwung-ini-temuan-bima-arya-lEhgESbPgD.jpg Bima Arya susur Sungai Ciliwung (Foto : Humas Pemkot Bogor)

BOGOR - Wali Kota Bogor Bima Arya bersama Komunitas Peduli Ciliwung menuntaskan ekspedisi selama 16 jam mengarungi aliran Sungai Ciliwung dari Kota Bogor dengan rute sepanjang 70 kilometer. Ekspedisi ini berakhir di Pintu Air Manggarai, Jakarta.

"Kami banyak mencatat, sepanjang perjalanan kami rekam semuanya. Ada titik pembuangan sampah, pembuangan limbah. Dari Bogor sampai Depok ada 34 titik. Tapi dari Depok sampai Manggarai itu ada ratusan titik. Ada limbah yang dibuang ke sungai, kebanyakan pabrik tahu. Dari Bogor sampai Depok ada 11, dari Depok sampai Jakarta belasan juga," kata Bima, dalam keterangannya, Rabu (11/11/2020).

Bima mengatakan, selama ini Bogor kerap disebut biang banjir yang terjadi di wilayah DKI Jakarta. Akan tetapi, hasil pemantaunnya terlihat sampah paling banyak di aliran Sungai Ciliwung justru berada di wilayah Depok sampai Jakarta itu sendiri.

"Pertanyaannya begini, orang selalu bilang kiriman banjir dari Bogor. Ini harus clear. Seberapa besar kiriman banjir dari Bogor, seberapa besar penyumbang banjir di Jakarta. Kalau kita lihat sebagian besar sampah dan limbah lokasinya dari Depok ke sini (Jakarta). Kalau dari Bogor sampai Depok vegetasinya masih hijau," bebernya.

Oleh karena itu, Bima menyebut persoalan Sungai Ciliwung ini adalah urusan bersama. Tidak hanya Bogor tetapi semua wilayah yang dilintasi sungai.

"PR-nya banyak, kerja bareng dari hulu ke hilir. Jadi, kesimpulannya kalau kita tidak serius, kalau kita tidak kerjasama, akan begini-begini saja. Ini lihat datanya. Ketika dari Depok ke Jakarta itu airnya semakin bau, semakin cokelat, semakin banyak kiri kanannya itu timbunan sampah, baik yang dibawa banjir maupun sampah dari warga yang tinggal di sepanjang aliran sungai," ungkap Bima.

Jika semua wilayah ikut mengatasi persoalan tersebut, besae kemungkinan banjir di hilir Sungai Ciliwung tidak akan terjadi. Karena, limpahan air bisa terserap dengan baik sebelum tiba di Jakarta.

Bima Arya susur Sungai Ciliwung (Foto: Okezone.com)

Baca Juga: Pelapor Video Porno Mirip Gisel & Jedar Orang yang Sama

"Kalau kita sama-sama serius membuat Ciliwung ini bersih, kemudian air itu terserap di hulunya, terserap di Kabupaten Bogor, terserap di Kota Bogor, terserap di Kota Depok, (aliran air) yang ke Jakarta juga akan semakin berkurang," jelas Bima.

Di Kota Bogor, lanjut Bima, sudah melakukan sejumlah program terkait lingkungan. Selain menerapkan program pengurangan penggunaan kantong plastik di retail modern, juga membentuk Satgas Ciliwung.

"Kami melakukan apa yang bisa dilakukan di Kota Bogor. Ada Satgas Ciliwung yang tugasnya bersihkan sampah, normalisasi saluran air, edukasi kepada warga. Tapi data yang kami dapat ini akan kami sampaikan kepada kepala daerah masing-masing. Kelihatannya kita perlu banyak dibantu juga di wilayah Depok. Karena kalau Depok sampai Jakarta ini tergarap, banjir Jakarta akan jauh lebih berkurang," tuturnya.

Selain itu, kata Bima, ada hal jauh lebih penting lagi, yakni membangun infrastruktur untuk membentuk kultur. Yakni bagaimana warga atau bangumam di bantaran Sungai Ciliwung lebih ditata terkait IPAL, pengelolaan sampah hingga MCK.

"Ini PR kita. Dan kami ingin sampaikan juga kepada bapak Presiden, Kementerian PUPR, supaya Ciliwung ini diperhatikan betul. Ciliwung ini urusan bersama. Kalau kita serius di hulu tapi di hilirnya tidak, ya percuma. Serius di hilir tapi dihulunya tidak ya juga sama saja. Saya optimistis bisa karena banyak komunitas, banyak penggiat lingkungan hidup, banyak warga juga yang siap membantu, tadi pada semangat ya. Tinggal pemerintahnya mendorong," pungkas Bima.

Untuk infomasi, dalam pengarungan tersebut, diikuti 12 perahu karet dari Bogor ke Depok yang berisikan para penggiat lingkungan, seperti Komunitas Peduli Ciliwung dan Satgas Ciliwung serta didukung oleh Federasi Arung Jeram Indonesia (FAJI) dan unit rescue dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

Tiba di Depok, tim memutuskan untuk bermalam dan melanjutkan ekspedisi hari kedua dari Depok menuju Pintu Air Manggarai, Jakarta. Pada hari kedua ini tim dibantu perahu bermotor untuk memudahkan pengarungan karena alirannya sangat datar. Sesekali perahu motor yang ditumpangi tim harus mati mesin karena tersumbat sampah. Hingga pada akhirnya tim tiba Pintu Air Manggarai.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini