Kakek Ini Keliling Jajakan Bunga Anggrek Demi Anak dan Cucu

Hambali, Okezone · Rabu 18 November 2020 05:30 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 18 338 2311330 kakek-ini-keliling-jajakan-bunga-anggrek-demi-anak-dan-cucu-GMG2g4X9iy.jpg Kakek Liung, penjual bunga anggrek (foto: Okezone.com/Hambali)

TANGSEL - Sambil terengah-engah, sosok kakek tua bertubuh ringkih ini menawarkan deretan bunga anggrek yang diletakkan dalam wadah kotak di jok belakang sepedanya. Tak banyak pengguna jalan yang menoleh, lantaran tutur kata ucapannya parau dan sulit terdengar jelas.

Kakek berusia 64 tahun itu diketahui bernama Liung. Dia terlihat sedang beristirahat sambil menepikan sepeda tuanya di sisi Jalan Raya Puspiptek, Bakti Jaya, Setu, Kota Tangerang Selatan (Tangsel). Jika ada pejalan kaki atau masyarakat yang melintas dekat, spontan Kakek Liung menjajakan bunga anggrek yang dibawanya.

Tak semua berminat melihat bunga anggrek yang dijualnya. Sebab selain telah bercampur debu jalan, panas terik sinar matahari membuat bunga-bunga anggrek yang dibawa Kakek Liung sedikit layu dan tak terlihat segar sebagaimana biasa dijual di toko-toko bunga pada umumnya.

 Kakek penjual anggrek

Dalam wadah kotak itu, terdapat sekira 20 ikat tangkai bunga anggrek. Tiap ikatan dijualnya seharga Rp10 ribu. Rejeki pun datang tak menentu, kadang dalam satu hari dia bisa menjual hingga 10 ikat tangkai bunga anggrek. Sebaliknya, sering pula Kakek Liung pulang tanpa membawa hasil jualan.

"Kadang tergantung rejekinya juga, ada yang laku sehari 5 iket, pernah sampai habis semua. Sering juga nggak ada yang beli, jadi bunganya dibawa pulang lagi," tuturnya kepada Okezone.

Kakek Liung tinggal di Kampung Babakan RT05 RW04, Kelurahan Babakan, Kecamatan Setu. Dia terpaksa harus terus berjualan demi mengais rejeki mencukupi kebutuhan sehari-hari istri, anak, hingga 2 cucunya di rumah. Sadar menjadi tulang punggung, banjir peluh di tubuhnya pun tak lagi dihiraukan.

"Anak saya nggak kerja, cuma saya aja yang cari rejeki. Kalau pagi pergi jam 7 udah ngider (keliling), nanti pulangnya sebelom maghrib. Kalau capek berenti dulu, sambil istirahat sebentar abis itu ngider lagi," ucapnya.

Bunga-bunga anggrek itu diambilnya dari sebuah area kebun di daerah Gang Salak, Pamulang. Pemiliknya telah mempercayakan Kakek Liung untuk merawat berbagai tanam-tanaman di sana. Tak hanya anggrek, tapi juga dari jenis lain seperti kedelai, kacang-kacangan, dan mentimun.

Tak ada upah yang diberikan atas jasanya, hanya saja dia boleh menikmati hasil tanaman itu manakala musim panen tiba. Bahkan untuk tanaman anggrek, Kakek Liung menjadikannya sebagai jualan sehari-hari.

"Saya kan ngurus kebon juga, punya orang. Nggak pake upah, tapi ya nanti kalau panen bisa dibagi-bagi. Nah ini anggrek saya ambil dari kebon itu," tambahnya.

Perjalanan hidup Kakek Liung memang kenyang dengan rasa getir. Sejak beranjak dewasa, dia mulai membiasakan diri mencukupi kebutuhan sehari-hari dengan menjual tenaga sebagai kuli bangunan hingga pekerjaan kasar lainnya. Tak ada keluhan, Kakek Liung menganggap apa yang telah dilalui dan kini tengah dijalani adalah bagian dari takdir hidup.

"Nggak ada (mengeluh). Selama masih bisa jalan, dikasih umur panjang, tetep cari rejeki terus. Kita manusia tinggal berusaha, semuanya kan udah ada yang atur," terangnya.

Jika menuruti isi hati, Kakek Liung memang menyadari jika kondisi fisiknya kian melemah, hingga mengharuskan dia lebih banyak beristirahat. Namun rasa tanggung jawab mengalahkan semua itu. Tak peduli rasa letih dan lapar yang dirasa, karena setiap langkahnya berisi harapan bahwa dia harus kembali pulang dengan hasil di tangan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini