Bima Arya: Mari Ikhtiar Agar Tak Ada Generasi yang Hilang

Putra Ramadhani Astyawan, Okezone · Kamis 26 November 2020 08:22 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 26 338 2316356 bima-arya-mari-ikhtiar-agar-tak-ada-generasi-yang-hilang-UbLsL6S7rh.jpg Wali Kota Bogor Bima Arya (Foto : Humas Pemkot Bogor)

BOGOR - Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto mengingatkan ancaman 'Lost Generation' atau generasi yang hilang kepada guru-guru di masa pandemi Covid-19. Generasi hilang yang dimaksud yakni anak-anak yang tidak memperoleh kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas.

"Saat ini adalah masa yang sangat berat, tapi mari kita ikhtiar bersama-sama bahwa tidak ada generasi yang hilang," katanya saat menjadi keynote speaker Webinar memperingati Hari Guru Nasional dan HUT PGRI Ke-75 Tahun 2020 Tingkat Kota Bogor secara virtual di Balai Kota Bogor, Selasa (24/11/2020).

Sebab, lanjut Bima, pandemi ini belum diketahui kapan akan berakhir dan vaksin pun belum diketahui kapan bisa diberikan. Sementara, kegiatan belajar siswa yang dilaksanakan jarak jauh atau daring membuat tenaga pendidik maupun para orang tua dihadapkan pada masalah yang tidak mudah.

"Dampaknya bagi para siswa khususnya sungguh luar biasa," tambahnya.

Merespon apa yang disampaikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) mengenai rencana pembelajaran tatap muka tahun 2021. Bima meminta kepada tenaga pendidik dan pihak sekolah di Kota Bogor menyiapkan rencana tersebut sebaik mungkin.

Selanjutnya, Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor melalui Dinas Pendidikan (Disdik) dan Kantor Cabang Dinas (KCD) Pendidikan Provinsi Jawa Barat akan melakukan pemeriksaan semua sekolah mengenai kesiapan perangkat protokol kesehatan.

Baca Juga : 2.500 Karyawan Positif Covid-19, Pabrik Sarung Tangan di Malaysia Tutup

Baca Juga : Satgas Pastikan Calon Wali Kota Dumai yang Meninggal Negatif Covid-19

Tak hanya itu, lingkungan sekolah juga menjadi hal yang harus diperhatikan dan harus aman dari kerumunan para siswa setelah berakhirnya proses pembelajaran. Bima meminta kepada Satgas sekolah dan aparatur wilayah menjaga hal tersebut.

"Sistem belajar juga harus dipastikan aman. Ada pembatasan kuota, masuknya digilir dan tetap ada PJJ," jelas Bima.

Di sisi lain, orang tua yang tidak memberikan izin anaknya untuk mengikuti pembelajaran secara tatap muka, maka siswa tersebut tidak diwajibkan mengikuti kegiatan tatap muka. Saat ini, Disdik Kota Bogor masih merumuskan panduan teknis untuk disosialisasikan kepada semua sekolah.

Pada intinya, pembelajaran jarak jauh (PJJ) memiliki banyak dampak negatif, baik bagi siswa yang tidak mendapatkan pendidikan yang berkualitas maupun orang tua yang tidak semua mampu membimbing anaknya dan memenuhi kebutuhan di masa pandemi.

"Tenaga pendidik sendiri, masih banyak yang belum bisa menyesuaikan dengan PJJ. Data yang ada, hampir 60 persen instruksi sekolah diberikan melalui whatsapp group," ungkapnya.

Karena itu, Bima tidak ingin ada korban anak-anak yang berjatuhan ketika rencana pembelajaran tatap muka berjalan. Tak lupa, ia kembali menekankan pentingnya penerapan protokol kesehatan sebelum dilaksanakan kegiatan tatap muka dan rencananya para tenaga pendidik dan diharuskan mengikuti tes swab tes covid-19.

"Insya Allah kita akan kombinasikan kualitas pendidikan dan protokol kesehatan. Semoga semua bisa berjalan dengan baik," pungkas Bima.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini