Keluhan Pasien Positif Covid-19, Susah Cari Ruang Rawat Inap

Haryudi, Koran SI · Kamis 26 November 2020 14:13 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 26 338 2316641 keluhan-pasien-positif-covid-19-susah-cari-ruang-rawat-inap-QDYo6MUgwi.jpg Ilustrasi (Foto : Shutterstock)

BOGOR - Terus melonjaknya jumlah kasus positif Covid-19 di Kota Bogor, membuat sejumlah rumah sakit rujukan virus corona yang memiliki ruang rawat inap penuh. Kondisi tersebut terjadi sejak beberapa hari terakhir.

Akibatnya, tak sedikit warga Kota Bogor yang menjalani swab test mandiri dan hasilnya positif Covid-19 mengeluh karena sulitnya mendapatkan ruang rawat inap.

Salah satunya NK (31), warga Kelurahan Kedunghalang, Bogor Utara, Kota Bogor, mengeluhkan tentang betapa sulitnya mencari fasilitas kesehatan untuk merawat AA (59), ayahnya yang positif Covid-19.

"Hasil swab bapak baru keluar tadi dan dinyatakan positif Covid-19. Kemudian malam harinya bapak ngerasa demam, kemudian cari rumah sakit yang mau menerima pasien positif Covid-19 susah," ujarnya, Kamis (26/11/2020).

Ia mengaku ayahnya menjalani swab test mandiri di salah satu RS di Bogor Timur, Kota Bogor, setelah mengetahui bosnya di Jakarta positif Covid-19. "Setelah beberapa kali melakukan swab, kemarin hasilnya positif, nah cari rumah sakit susah banget, cari ambulance juga susah. Kasihan bapak saya sudah ada gejala demam gini," ungkapnya.

Ia mengaku akhirnya terpaksa membawa ayahnya ke RS Darurat di Lido, Cigombong, Bogor karena tak adanya RS di Kota Bogor yang menerima pasien positif Covid-19.

Sekadar diketahui RS Darurat di Lido, Cigombong, Bogor merupakan pusat rehabilitasi BNN yang kerjasama dengan Pemkot Bogor untuk menangani pasien COVID-19 orang tanpa gejala (OTG).

Sementara itu, Wakil Ketua Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Kota Bogor Dedie A. Rachim membenarkan seluruh rumah sakit di Kota Bogor yang memiliki fasilitas ruang isolasi sudah penuh.

"Benar semua RS (di Kota Bogor) sedang penuh kecuali di Graha Medika Cilendek," ungkap Dedie yang juga Wakil Wali Kota Bogor, saat dikonfirmasi.

Sebelumnya, Wali Kota Bogor Bima Arya menyebut status Kota Bogor masih berada di zona risiko sedang atau oranye dengan ketersediaan tempat tidur isolasi di atas 70 persen.

Baca Juga : Kadis PUPR Garut Positif Covid-19, Seluruh Pegawai Dilakukan Swab Tes 

Baca Juga : Kemenkes: 70% Masyarakat Sudah Disiplin Protokol Kesehatan Cegah Covid-19

Menurutnya, Pemkot Bogor memperpanjangan Pembatasan Sosial Berbasis Mikro dan Komunitas (PSBMK) di Kota Bogor mulai 25 November hingga 8 Desember 2020.

Bima menyebut ketersediaan tempat tidur saat ini sudah mencapai 70 persen atau melebihi ketentuan WHO yakni 60 persen. Penambahan jumlah kapasitas disebabkan meningkatnya angka rata-rata positif baru.

"Jadi masih belum aman, saya ingatkan waspada terus. Terbanyak masih dari klaster keluarga,” ungkap Bima, Rabu 25 November 2020.

Catatan Dinkes Kota Bogor, kapasitas ruang isolasi dan ICU khusus Covid-19 di Kota Bogor terus ditingkatkan untuk mengantisipasi peningkatan kasus aktif yang membutuhkan perawatan intensif.

Berdasarkan data Dinkes Kota Bogor jumlah tempat tidur isolasi per 23 November Oktober 2020 adalah 446 unit dengan ICU 20 unit dari 21 rumah sakit rujukan Covid-19 di kota hujan.

Dai jumlah keterisian tempat tidur isolasi Covid-19 itu, angka keterisian mencapai 83 persen atau sudah terisi 370 tempat tidur dan tempat tidur ICU sebesar 85 persen atau terisi 17 pasien.

Sementara di Pusat isolasi BNN Lido dengan kapasitas 100 tempat tidur, terisi 50 atau 50 persen.

Sementara rincian asal pasien, dominasi Kota Bogor sebanyak 216 orang (58,4 persen), pasien asal Kabupaten Bogor 121 orang (32,7 persen) dan pasien asal kota lain 33 orang (8,9 persen).

Data kasus harian Covid-19 per 25 November 2020 yang dirilis Dinas Kesehatan Kota Bogor menunjukan ada penambahan sebanyak 46 kasus atau menjadi 3.109 kasus. Dengan rincian sembuh atau selesai isolasi 2.495, masih sakit 523, dan meninggal 91 kasus.

Bima menyebut, lonjakan kasus dalam satu pekan terakhir masih didominasi berasal klaster keluarga. Ia menjelaskan, bila dibedah lebih dalam, penyebab klaster keluarga berasal dari orang-orang yang berlibur.

"Peningkatan 40 kasus baru per hari, masih berasal klaster keluarga yang disumbang dari libur panjang, kisannya 12 persen yang sebelumnya disumbang dari perkantoran," kata Bima.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini