Libur Nataru, DKI Berlakukan 75% WFH hingga 8 Januari

Fakhrizal Fakhri , Okezone · Rabu 16 Desember 2020 07:52 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 16 338 2328435 cegah-penyebaran-covid-19-pemprov-dki-berlakukan-wfh-pada-18-desember-43y2maxGhb.jpg Foto: Illustrasi Shutterstock

JAKARTA - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan memberlakukan 75% PNS bekerja dari rumah atau work from home (WFH), pada 18 Desember hingga 8 Januari 2020. Kebijakan itu guna mencegah penyebaran Covid-19 saat libur natal dan tahun baru (nataru) 2021.

Baca juga: Wagub Ariza: Pemprov DKI Batasi Kegiatan di Malam Tahun Baru 

Kepala BKD DKI Jakarta, Chaidir mengatakan, saat ini pihaknya hanya memberlakukan 50% dari jumlah PNS di lingkungan Pemprov DKI Jakarta yang WFH setiap harinya.

"Presentase saat ini WFH 50 persen, 50 persen WFO," kata Chaidir saat dikonfirmasi.

Baca juga:  Gelar Pesta Pernikahan saat PSBB Transisi, Restoran di Kelapa Gading Disegel Petugas 

Chaidir memastikan, bahwa Pemprov DKI Jakarta akan menerapkan 75% PNS untuk WFH pada 18 Desember hingga 8 Januari guna mencegah penyebaran virus corona saat libur akhir tahun.

"Sesuai arahan Pak Luhut kami akan menyesuaikan sedang merevisi SE tentang jam kerja ASN. WFH menjadi 75 persen dan WFO 25 persen pada 18 Desember 2020 sampai dengan 8 Januari 2021 selama pandemi Covid-19 pasca-tahun baru," terangnya.

Ia menambahkan, Pemprov DKI akan memberlakukan 75% PNS WFH sesuai dengan arahan Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan.

"Tanggal mulai ditetapkan sesuai dengan arahan Pak Luhut demikian berlakunya tanggal 18 Desember 2020 sampai dengan 8 Januari 2021," tandasnya.

Sebelumnya, Menko Luhut meminta kepada Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan untuk mengetatkan kebijakan WFH hingga 75%.

“Saya juga minta Pak Gubernur untuk meneruskan kebijakan membatasi jam operasional hingga pukul 19:00 dan membatasi jumlah orang berkumpul di tempat makan, mall, dan tempat hiburan,” ujar Luhut saat rakor penanganan Covid-19 di DKI Jakarta, Jabar, Jateng, Jatim, dan Bali secar virtual, Senin 14 Desember 2020.

Adapun, implementasi pengetatan ini dapat dimulai pada tanggal 18 Desember 2020 hingga 8 Januari 2021.

Alasan yang mendasari keluarnya kebijakan tersebut adalah peningkatan kasus secara signifikan yang masih terus terjadi pasca libur dan cuti bersama pada akhir Oktober.

Kemudian, dia juga meminta agar kegiatan yang berpotensi mengumpulkan banyak orang seperti hajatan maupun acara keagamaan dibatasi atau dilarang. Menko Luhut pun mengusulkan agar kegiatan dapat dilakukan secara daring.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini