Tahanan Polres Tangsel Tewas Dalam Sel, Keluarga: Banyak Luka Lebam dan Bakar

Hambali, Okezone · Rabu 16 Desember 2020 15:09 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 16 338 2328780 tahanan-polres-tangsel-tewas-dalam-sel-keluarga-banyak-luka-lebam-dan-bakar-E4oR1xvOkN.jpg Foto: Illustrasi Shutterstock

TANGSEL - Seorang tahanan bernama Sigit Setiawan (33) tewas saat menjalani penyidikan oleh pihak kepolisian di Mapolres Tangerang Selatan (Tangsel). Pihak keluarga menyebut, terdapat banyak luka bakar dan lebam yang diduga bekas penganiayaan.

Sigit Setiawan merupakan tahanan Satnarkoba yang baru ditangkap pada 1 Desember 2020. Dia diciduk aparat di kawasan Pamulang dengan dijerat Pasal 114 ayat (1) subsider Pasal 112 ayat (1) Undang-Undang (UU) nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika.

Baca juga:  Suami Tewas di Dalam Sel, Istri Minta Bantuan Hukum

Salah satu perwakilan keluarga berinisial RI (29), mengatakan, sejak penangkapan itu dirinya baru sempat membesuk Sigit ke Mapolres Tangsel pada tanggal 9 Desember. Ketika bertemu, Sigit sudah dalam kondisi mengenaskan. Terdapat banyak luka lebam, luka terbuka, hingga bekas luka bakar di bagian lehernya.

"Jadi yang pertama kali perwakilan keluarga membesuk itu saya sama satu orang lain dari keluarga juga, kita ketemu di Polres. Kondisinya sudah parah, saya nggak tega lihatnya. Banyak luka bekas penganiayaan, ada luka bakar juga dileher itu kelihatan banget. Mau bicara aja dia sudah susah, karena dadanya sakit, mungkin memar juga," kata RI kepada Okezone, Rabu (16/12/2020).

Baca juga:  Adik Ipar Edo Kondologit Diduga Tewas di Tahanan, Ini Penjelasan Polisi

Dilanjutkan dia, kala itu dirinya tak berani menanyakan luka-luka yang dialami lantaran ada seorang anggota polisi yang mendampingi ketat. Dengan bahasa isyarat, Sigit pun meminta agar RI tak perlu menanyakan luka tersebut.

"Waktu itu ada satu petugas yang ngawal kita bertemu. Jadi dia (Sigit) minta jangan bahas soal itu," jelasnya.

Tanpa disadari, pertemuan itu rupanya jadi momen terakhir RI bertatap muka langsung dengan Sigit. Sebab, pada Jumat 11 Desember pihak kepolisian menghubungi keluarga untuk mengabarkan bahwa Sigit telah meninggal dunia karena sakit. Jenazahnya berada di RSU Tangerang.

"Dia itu sehat, sebelum tertangkap itu dia sehat-sehat aja. Kerjanya kan di teknisi otomotif. Terus dikabarin hari Jumat, dia meninggal karena sakit. Tapi nggak ada penjelasan medis sakitnya apa," sambung RI.

Kejanggalan keluarga korban kembali menguat, saat petugas menolak keinginan pihak keluarga yang akan menjemput jenazah untuk memandikan dan mengkafani. Dikatakan RI, ketika itu petugas menyebut bahwa mereka yang akan mengurus jenazah hingga siap dimakamkan.

"Kita makin curiga, kita nggak dikasih memandikan sama mengkafani. Jadi itu katanya diurus petugas aja, jadi nanti diantar dan tinggal dimakamin aja," tuturnya.

Berdasarkan kesepakatan, akhirnya petugas mengantar jenazah Sigit ke salah satu rumah keluarga di kawasan Jakarta Timur. Sebuah mobil ambulan berplat nomor warna hitam tiba di sana, dikawal dengan seunit mobil lainnya berisikan 4 petugas berpakaian sipil.

"Jadi diantar ke Cawang. Kata petugas harus buru-buru dimakamin karena kasihan kalau terlalu lama. Tapi anehnya, itu yang anter bukan mobil ambulan dari RSU, plat nomornya hitam. Akhirnya jenazah kita bawa ke kampung," ujarnya.

Menyadari jika Sigit meninggal tak wajar, pihak keluarga pun tak bisa berbuat banyak selain berharap polisi berani mengungkap kejadian itu. Dikatakannya, secara moral pihak keluarga tak terima dengan penganiayaan tersebut. Akan tetapi karena merasa warga tak mampu, keluarga korban memilih mengikhlaskan kepergian Sigit.

Sementara, pihak kepolisian yang telah dikonfirmasi berulang kali enggan memberikan jawaban atas kematian Sigit yang diduga dianiaya dalam sel tahanan. Baik Kasat Narkoba Iptu Yulius, Kasubag Humas Polres AKP Turharyono, hingga Kapolres AKBP Iman Setiawan kompak tak memberikan respon kepada wartawan.

Sementara itu, Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW), Neta S Pane ikut menanggapi kejanggalan penyebab tewasnya tahanan narkoba di Mapolres Tangsel. Menurut dia, kematian tersangka itu sangat aneh. Apalagi sebelum tewas dan saat keluarganya membesuk, kondisi tersangka sudah parah.

"Misalnya, di jidatnya ada luka robek, leher belakangnya ada luka kayak bekas tetes-tetesan plastik dibakar. Kelingking kanannya patah. Waktu diajak ngobrol, kelihatan tersangka sedang menahan sakit, mungkin karena badannya ada yang luka. Selain itu, saat tersangka tewas keluarganya dipersulit untuk melihat jenazah," ungkapnya.

Kata Neta, dari fakta-fakta itu patut diduga ada perlakuan tak wajar yang dialami tersangka Sigit, di antaranya mengalami penyiksaan. Untuk itu, keluarga korban harus melaporkan hal ini ke Propam Mabes Polri agar kasus ini diusut secara terang benderang.

"Apapun kesalahan tersangka, aparat Polres Tangsel sebagai penegak hukum tidak boleh semena-mena, apalagi hingga menyebabkan tersangka tewas," pungkasnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini