Covid-19 Terus Melonjak, Bima Arya: Perlu Ada Sistem Rujukan yang Baik di Jabodetabek

Haryudi, Koran SI · Kamis 28 Januari 2021 05:32 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 28 338 2352069 covid-19-terus-melonjak-bima-arya-perlu-ada-sistem-rujukan-yang-baik-di-jabodetabek-CH0bcBdTjE.jpg Bima Arya. (Foto: Okezone.com)

BOGOR - Wali Kota Bogor Bima Arya mengungkapkan perlunya sistem rujukan untuk mengatasi penuhnya tempat tidur rumah sakit akibat tingginya kasus Covid-19 di Jabodetabek.

“Jadi kemarin itu ada usulan dari Provinsi Jakarta, katanya Pemerintah Pusat diminta, bahasanya mengambil alih. Tapi saya kira poinnya begini, harus ada koordinasi yang lebih intens lagi untuk mengatasi kelangkaan keterisian tempat tidur,” ungkap Bima Arya, Rabu (27/1/2021)

“Salah satunya aplikasi sistem rujukan. Jadi warga itu bisa tahu yang kosong di mana. Datanya harus selalu di-update. Saya itu sering ditelefon warga Jakarta, kawan-kawan atau saudara. Mereka bilang Jakarta penuh (ruang isolasi/ICU), Bogor bagaimana,” tambahnya. 

Menurut Bima, Kota Bogor sudah membangun sistem rujukan itu. Tapi harus ditingkatkan lagi  sehingga warga bisa meng-update secara realtime.

“Saya pikir kalau di Jabodetabek ada sistem itu kan bagus bisa menolong warga. Tapi tantangannya memang bagaimana supaya data itu update. Kalau kosong ya kosong, kalau isi ya terisi. Semuanya harus diperbaharui oleh fasilitas kesehatan,” jelas Bima. 

Pemkot Bogor, kata Bima, terus berikhtiar untuk menekan bed occupancy ratio (BOR) yang angkanya sempat melebihi 80 persen.

Baca juga: Pemprov DKI Siapkan 17.900 Petak Pemakaman Baru Pasien Covid-19, Berikut Lokasinya

“Kita sudah mengoperasikan RS Lapangan, lalu meminta seluruh rumah sakit rujukan menambah ruang isolasi dan ICU. Tapi kita tidak berhenti di sini, kita juga masih mempersiapkan tempat isolasi untuk OTG. Ada hotel yang sekarang dalam proses percepatan untuk bisa digunakan sebagai tempat isolasi OTG,” katanya. 

“Kalau dua minggu lalu angkanya di atas 80 persen. Per hari ini BOR kita ada di angka sekitar 70 persen. Memang masih di atas ambang batas, tetapi saya melihat ada progres di sini. Rutin kami koordinasi dengan pimpinan RS untuk memastikan usaha-usaha mereka untuk menambah ruang isolasi dan ICU tadi,” terangnya  

Lebih jauh Bima Arya memprediksi, hingga akhir 2021 nanti Kota Bogor akan mencatatkan 11.000 kasus positif akumulasi. Sehingga diperlukan langkah-langkah untuk mengantisipasi skenario terburuk terjadi.

Bima mengatakan, pihaknya sudah punya angka-angka berdasarkan rekomendasi dari epidemiolog. Jika tingkat efektivitas dari vaksin 80 persen, artinya jumlah target yang divaksin itu terpenuhi di Kota Bogor, kemudian angkanya baik, itu kemungkinan besar di akhir tahun akan ada 11.000 kasus positif akumulasi. 

“20 persen dari itu memerlukan perawatan di ICU. Ini sudah kita hitung dari sekarang, nambah di RS mana saja. Jadi setiap RS itu kita cek maksimal nambah berapa sampai Desember. Kalau RS sudah mentok kapasitasnya, baru kita buat di mana lagi untuk menambah ICU tadi,” beber Bima

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini