Pelaku Aborsi Ilegal di Bekasi Terancam Hukuman 10 Tahun Penjara

Ari Sandita Murti, Sindonews · Rabu 10 Februari 2021 12:52 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 10 338 2359749 pelaku-aborsi-ilegal-di-bekasi-terancam-hukuman-10-tahun-penjara-8wbXs2RGcU.jpg Polda Metro Jaya merilis pengungkapan kasus aborsi ilegal di Bekasi, Jawa Barat (Foto: Ari Sandita)

JAKARTA - Polisi menciduk tiga orang pelaku aborsi ilegal di kawasan Pedurenan, Bekasi, Jawa Barat berinisial IR, ST, dan RS. Adapun ketiganya dijerat pasal berlapis dengan ancaman hukuman 10 tahun penjara.

"Para pelaku dijerat pasal berlapis dengan ancaman hukuman pidana maksimal 10 tahun penjara," ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Yusri Yunus pada wartawan, Rabu (10/2/2021).

Baca Juga:  Polisi Bongkar Praktik Aborsi Ilegal di Bekasi

Adapun pasal berlapis itu, yakni Pasal 194 Jo Pasal 75 Ayat (2) Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dengan ancaman pidana penjara paling lama 10 tahun. Lalu, Pasal 77A JO Pasal 45A Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman pidana penjara paling lama 10 tahun.

Menurutnya, sebelum membuka praktik di kawasan Pudurenan Bekasi, pasutri berinisial IR dan ST itu pernah pula membuka praktik aborsi juga masih di kawasan Bekasi pada September 2020. Dia membuka praktiknya selama satu bulan dengan pasien 15 orang, tapi dari 15 pasiennya itu hanya 12 orang yang dilakukan tindakan aborsi oleh pelaku.

"Maka itu, kami akan dalami lebih lanjut apakah jumlah pasiennya benar seperti yang dikatakan pelaku, begitu juga yang saat ini dia kan mengakunya baru empat hari dan ada 5 pasien," tuturnya.

Baca Juga:  Beroperasi 14 Tahun, Klinik Aborsi di Pandeglang Telah Layani 100 Pasien

Pelaku, tambahnya, mengaku belajar melakukan aborsi di tempat kerja sebelumnya, klinik aborsi ilegal pula di kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara selama empat tahun. Dia pun tak memiliki kompetensi apapun di bidang kesehatan, apalagi di bidang kedokteran.

"Alat yang digunakan juga sama seperti di tempat dia belajar pada saat ikut di salah satu tempat aborsi ilegal di Tanjung Priok. Jadi tidak sesuai standar kesehatan yang digunakan, baik itu kebersihan maupun tindakan kesehatan yang dilakukan," katanya.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini