Tionghoa Benteng yang Mahir Bahasa Sunda dan Betawi

Doddy Handoko , Okezone · Kamis 11 Februari 2021 06:45 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 11 338 2360163 tionghoa-benteng-yang-mahir-bahasa-sunda-dan-betawi-bm8wyNdFhB.jpg Foto: Yukpegi

Di kawasan Tangerang ada komunitas masyarakat yang dikenal dengan sebutan "Tionghoa Benteng".

Nenek moyang mereka diduga datang 300 tahun silam dari Hokkian. Asal-usulnya muncul dari kehadiran Benteng Makassar, Tangerang. Benteng yang dibangun pada zaman kolonial Belanda itu-sekarang sudah rata dengan tanah-terletak di tepi Sungai Cisadane, di pusat Kota Tangerang.

Baca juga:  5 Destinasi Wisata Edukasi di Tangerang Raya, Cocok Buat Liburan Akhir Pekan

Mereka tinggal di luar Benteng Makassar, terkonsentrasi di daerah sebelah utara, yaitu di kawasan Sewan dan Kampung Melayu. Mereka berdiam di sana sejak tahun 1700-an. Dari sanalah muncul, istilah "Tionghoa Benteng".

Kini mereka telah berakulturasi dan beradaptasi dengan lingkungan dan kebudayaan lokal. Dalam percakapan sehari-hari, misalnya, mereka sudah tidak dapat lagi berbahasa Tionghoa.

"Logat bicara mereka bahkan sudah sangat Sunda pinggiran bercampur Betawi, "kata M. Yusuf mantan kepala desa Kedaung Wetan, Kecamatan Batu Ceper, Tangerang.

Mereka melestarikan adat istiadat nenek moyang mereka yang sudah ratusan tahun. Ini terlihat pada tata cara upacara perkawinan dan kematian. Salah satunya tampak pada keberadaan "Meja Abu" di setiap rumah orang Tionghoa Benteng.

Pada upacara pesta perkawinan biasanya dilakukan dua kali pesta. Satu hari untuk tamu-tamu yang datang dari masyarakat pribumi yang Muslim. Satu hari lagi untuk masyarakat yang non-muslim (biasanya Tionghoa).

Hal ini dilakukan karena perbedaan makanan yang akan disajikan. Bagi yang non-Muslim biasanya disajikan panggang Babi Tangerang yang terkenal dan minuman bir.

Pada pesta perkawinan tradisional ini biasanya diramaikan juga dengan musik Gambang Keromong (dengan lagunya yang populer seperti, cinte manis berdiri, pecah piring, semar gurem dan onde-onde, dll) serta tarian Cokek yang umumnya datang dari daerah sekitar Karawang.

Sedang pakaian pengantin merupakan campuran budaya Tionghoa dan Betawi. Pakaian pengantin laki-laki, merupakan pakaian kebesaran Dinasti Ching, seperti terlihat dari topinya, sedangkan pakaian pengantin perempuan hasil akulturasi Tionghoa-Betawi yang tampak pada kembang goyang.

Beberapa tradisi leluhur yang masih dipertahankan antara lain Cap Go Meh (perayaan 15 hari setelah Imlek), Pek Cun, Tiong Ciu Pia (kue bulan), dan Pek Gwee Cap Go (hari kesempurnaan).

"Demikian pula panggilan encek, encim, dan engkong masih digunakan sebagai tanda hormat kepada orang yang lebih tua. Juga salam (pai) tetap dipertahankan dalam keluarga Cina Benteng pada saat bertemu dengan orang lain," jelas Yusuf.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini