Di Glodok Ada Kedai Kopi Berumur 100 Tahun

Doddy Handoko , Okezone · Jum'at 12 Februari 2021 06:32 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 12 338 2360816 di-glodok-ada-kedai-kopi-berumur-100-tahun-2TESRm4cpz.jpeg Ilustrasi (Foto : Sindonews/Isra Triansyah)

KAWASAN pecinan, Pancoran -Glodok ,Jakarta Barat, merupakan kawasan padat dan ramai. Beberapa bangunan bergaya Tionghoa masih dapat dinikmati.

"Terdapat kedai kopi yang usianya hampir 1 abad alias 100 tahun. Namanya es kopi Tak Kie. Selama 100 tahun ini, interior bahkan meja kursinya masih tetap seperti dulu",kata budayawan Betawi, (Alm) Alwi Shahab.

Rasa kopi yang ada di sini tetap sama seperti dulu. Hanya pernah mengalami sekali perubahan rasa yaitu ketika kedai ini dipegang generasi berikutnya dilakukan berkali kali percobaan dan akhirnya ketemulah resep kopi yang lebih segar dan lebih nikmat tanpa ampas.

Di dekat kedai kopi ada warung kecil berpapan kecil pula “Rujak Shanghai Encim”. Meski namanya Rujak Shanghai, bukan berarti di Shanghai ada rujak macam begini. Nama rujak ini diambil dari nama bioskop yang ada di sekitar sini, namanya bioskop Shanghai.

"Rujaknya isinya juhi, ubur-ubur dan kangkung. Lalu diberi kuah kental dari sagu diberi saos tomat dan racikan bumbu lainnya yang akhirnya menghasilkan warna merah muda yang romantis,"jelasnya.

Bicara Imlek tak komplet jika tidak menyebut Pasar Petak Sembilan. Pasar tradisional ini terasa khas suasana pecinan. Deretan lampion dan pernak-pernik khas imlek lain yang berwarna merah dijajakan pedagang di sisi kiri kanan jalan.

Jika menyambut datangnya pergantian Tahun baru Tionghoa, Pasar Petak Sembilan telah ramai didatangi warga keturunan Tiongha yang membeli berbagai keperluan, mulai dari bunga sedap malam, lampion, jeruk, kue keranjang hingga ikan bandeng khas Imlek.

Ikan bandeng, ikan berukuran besar seperti ini hanya dijumpai pada perayaan Imlek. Menurut kepercayaan masyarakat Tionghoa, ikan bandeng menjadi simbol Dewi Mungi.

Ikan bandeng digunakan sebagai ukuran barang antaran kepada calon mertua. "Makin besar Ikan bandeng yang dibawa, maka akan semakin disayang oleh calon mertua,"ungkapnya.

Baca Juga : Imlek 2572, Ahok: Semoga di Tahun Kerbau Ini Kita Diberi Kesehatan

Tak lupa kembang api dan lampion menjadi hiasan yang khas pada perayaan tahun baru Imlek.

Selain itu masih ada kebutuhan lain yang dibeli warga untuk melengkapi ritual Tahun Baru Imlek seperti, kue keranjang, lampion dan jeruk.

Di Gang Kalimati, satu diantara gang yang paling padat dipenuhi penjual aneka makanan. Terdapat dagangan yang jarang ditemui di tempat lain yaitu kura-kura.

Kura-kura kembang dan parit ini banyak dicari oleh warga keturunan Tionghoa untuk upacara sembahyangan. Pada bulan-bulan tertentu kura-kura bisa terjual drai 100 ekor sampai bawa 150 ekor.

Menurut kepercayaan, melepaskan kura-kura yang telah diberi nama di batok tempurungnya, bisa membuang sial.

Kawasan pecinan ini juga akrab dengan toko-toko obatnya. Deretan toko-toko obat yang menjual aneka herbal kering khas Tionghoa menjadi pemandangan menarik di sepanjang Jalan Pancoran ke arah Jalan Pintu Kecil.

Baca Juga : Imlek, Menag Ajak Masyarakat Tionghoa Doakan Pandemi Berakhir

Tak jauh dari deretan toko obat itu bisa ditemui sebuah toko buku khusus berbahasa Tionghoa menjual buku-buku sejarah, sastra, manajemen, serta buku cerita anak-anak berbahasa Mandarin.

Aksesoris dan pernik-pernik dapat pula dicari di kawasan ini, bisa mampir ke Pasar Pagi Asemka. Di lantai dasar, deretan penjual beragam aksesoris impor siap dibeli dalam bentuk lusinan maupun eceran.

Ada pasar Gloria yang sudah berdiri sejak lebih dari 30 tahun lalu. Di pasar ini bisa ditemukan makanan-makanan unik lain, semisal aneka jajanan Tionghoa seperti kue bulan dan moci.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini