BMKG Beberkan Terjadinya Curah Hujan Ekstrem di Jabodetabek

Putra Ramadhani Astyawan, Okezone · Sabtu 20 Februari 2021 14:19 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 20 338 2365382 bmkg-beberkan-terjadinya-curah-hujan-ekstrem-di-jabodetabek-fi1lTo93uZ.jpg Ilustrasi. (Foto: Okezone)

BOGOR - Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyampaikan terjadinya intensitas hujan ekstrem yang mengguyur wilayah Jabodetabek. Ada beberapa faktor utama yang memicu awan hujan.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan sesuai prediksi bahwa selama dua hari terakhir yaitu pada 18 dan 19 Februari 2021 wilayah Jabodetabek diguyur hujan secara merata dengan intensitas lebat hingga sangat lebat. Bahkan, cenderung ekstrem yang mencapai lebih dari 150 mm selama 24 jam.

BACA JUGA: Banjir, Akses Jalan di Ciledug Tangerang Terputus

"Lebat itu lebih dari 50 mm dan sangat lebat 100-150 mm dengan kondisi curah hujan ekstrem mencapai 150 mm selama 24 jam," kata Dwikorita, dalam konferensi pers secara virtual, Sabtu (20/2/2021).

Ia menjelaskan, berdasarkan pengamatan BMKG di beberapa titik di wilayah DKI Jakarta mengalami hujan ekstrem itu. Seperti di kawasan Halim, curah hujan mencapai 160-176 mm per hari, Sunter Hulu 197 mm per hari, Lebak Bulus 154 mm per hari dan tertinggi yakni Pasar Minggu 226 mm per hari.

"Hujan di Jabodetabek umumnya terjadi malam menerus sampai dini hari berlanjut sampai pagi hari. Itu waktu kritis perlu kita waspadai," ungkapnya.

Curah hujan ekstrem tersebut, disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama pada tanggal 18-19 Februari 2021 termonitor adanya aktivitas seruakan udara yang cukup signifikan dari Asia mengakibatkan curah hujan di Indonesia bagian barat.

BACA JUGA: Menjala di Tengah Banjir Jalan TB Simatupang, Warga Dapat Ikan Sekarung

Kedua ada aktivitas gangguan atmosfer di zona equator. Gangguan ini mengakibatkan adanya perlambatan dan pertemuan angin atau pembelokan dari arah utara (Asia) tepat di wilayah Jabodetabek sehingga menimbulkan awan-awan hujan.

"Pertemuan dari utara atau Asia bertemu dengan angin dari Samudera Hindia sehingga menjadi lambat atau terhalang dari utara tidak bisa langsung ke selatan karena terhalang dari barat itu. Jadi angin dari utara berbelok ke timur dan melambat dan terjadi peningkatan pembentukan awan hujan," jelasnya.

"Ketiga ada tingkat labilitas dan kebasahan udara di sebagian besar di wilayah Jawa bagian barat yang cukup tinggi dan ini meningkatkan potensi pembentukan awan hujan di Jabodetabek berpengaruh dalam peningkatan curah hujan," tambah dia.

Terakhir adalah terpantaunya ada daerah pusat bertekanan rendah di Australia bagian utara yang membentuk pola konvergensi di bagian Jawa. Sehingga fenomena di Pulau Jawa ini ternyata juga dipengaruhi oleh daerah pusat bertekanan rendah.

"Fenomena ini di Pulau Jawa ini dengan ada pertemuan-pertemuan (udara) itu ternyata juga dipengaruhi oleh daerah pusat bertekanan rendah di Australia utara dan berkontribusi pembentukan awan hujan di sekitar Jawa bagian barat termasuk Jabodetabek. Itulah penyebabnya," tutup Dwikorita.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini