Bima Arya Kembali Gagal Divaksin Covid-19, Ini Penyebabnya

Putra Ramadhani Astyawan, Okezone · Senin 01 Maret 2021 12:06 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 01 338 2370097 bima-arya-kembali-gagal-divaksin-covid-19-ini-penyebabnya-an9HoOsGVs.jpg Wali Kota Bogor, Bima Arya (Foto : Okezone/Putra Ramadhani Astyawan)

BOGOR - Wali Kota Bogor Bima Arya kembali gagal menjalani vaksinasi Covid-19. Hal tersebut disebabkan tingkat imunitas atau antibodi titernya masih tinggi sehingga tidak perlu divaksin.

"Iya saya konsultasi ke dokter. Dokter menyarankan untuk dicek dulu secara keselurahan. Jadi saya tes darah total keseluruhan nah di situ kemudian didapati bahwa salah satu yang dicek adalah tingkat imunitas atau antibodi saya jadi dites secara kuantitatif antibodi saya dan ini menunjukan angkanya 197, 9," kata Bima kepada wartawan, Senin (1/3/2021).

Mendapati hasil itu, Bima kemudian kembali berkonsultasi kepada dokter spesialis termasuk Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin dan menyarankan sementara tidak perlu divaksin.

"Saya mendiskusikan, mengonsultasikan angka ini kepada beberapa dokter spesialisnya dan juga saya komunikasikan dengan Menteri Kesehatan kemarin pak Budi Gunadi, semuanya menyarankan kepada saya karena titer (antibodi) ini masih tinggi jadi belum diperlukan vaksin lebih baik yang lain yang dibutuhkan kira-kira begitu," ungkap Bima.

Tiga bulan ke depan, lanjut Bima, dirinya akan kembali memeriksa antibodi di tubuhnya. Jika sudah turun, barulah tubuhnya harus mendapat vaksin covid-19.

"Tiga bulan lagi saya akan cek lagi. Kalau titernya, sudah turun berarti perlu diboost (divaksin). Karena kan divaksin memboost titer," tambahnya.

Bima menjelaskan, kondisi tubuh para penyintas berbeda-beda. Bukan berarti dengan antibodi yang masih tinggi tidak layak mendapat vaksin, tetapi memang belum membutuhkan vaksin.

Baca Juga : Hari Ini Presiden Jokowi Tinjau Vaksinasi Massal di Yogyakarta

"Bulan ini genap 1 tahun saya menjadi penyitas dan ternyata angka itu masih tinggi. Nah karena itu sebetulnya untuk penyitas boleh boleh aja. Kan tidak semua mendapatkan kesempatan untuk bisa di tes. Karena tidak ada efek samping sebetulnya. Tidak ada efek samping jadi bagi penyintas setelah 3 bulan boleh saja tetapi bagi yang sudah tahu angka titernya tinggi tidak vaksin pun tidak apa-apa," bebernya.

Meski begitu, Bima menjelaskan dengan antibodi yag masih tinggi bukan sebagai jaminan tidak bisa kembali terpapar covid-19 bagi penyintas termasuk penerima vaksin . Hanya saja, dengan antibodi tinggi bisa mempercepat proses pemulihan.

"Boleh divaksin tapi mubazirlah kira-kira begitu. Karena kalaupun divaksin nanti titernya akan naik lagi di atas 200. Saya digarisbawahi adalah titer tinggi ini belum menutup kemungkinan bagi penyintas untuk kembali terpapar dan terinfeksi itu, catatannya itu tetap berhati-hati saya ini karena masih mungkin terpapar. Demikian juga seperti analogi yang sudah divaksin. Divaksin itu tidak menutup kemungkinan untuk terpapar. Tetapi proses recovery akan lebih cepet karena antibodinya sudah ada," jelas Bima.

Karena itu, Bima menyumbangkan jatah vaksin covid-19 miliknya kepada yang lebih membutuhkan. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor akan mencari penerima sumbangan vaksin tersebut.

Baca Juga : Vaksinasi Covid-19 Segera Selesai, Jokowi: Ekonomi Bangkit Kembali

"Vaksin saya ini saya akan serahkan kepada yang membutuhkan. Saya kira pelaku ekonomi, yang tidak mampu tolong diprioritaskan, yang bisa berguna untuk mereka. Saya belum tahu siapa penerimanya, nanti Dinkes yang akan mencari," tuturnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini