Cerita Warga Ciledug Hidup Bak Terpenjara di Rumah Sendiri Akibat Jalan Dibeton Tetangga

Hasan Kurniawan, Okezone · Jum'at 12 Maret 2021 14:33 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 12 338 2376654 cerita-warga-ciledug-hidup-bak-terpenjara-di-rumah-sendiri-akibat-jalan-dibeton-tetangga-PkgJpRdTty.jpg Akses jalan rumah warga di Ciledug Dipagar Beton (Foto: Dimas Choirul)

TANGERANG - Satu persatu anak Anna Meriska (30) naik ke atas tangga kayu yang dibuat seadanya. Anna sendiri tampak kesulitan naik ke atas tangga untuk melewati pagar beton berkawat duri setinggi 2 meter yang menutup akses jalan utama rumahnya.

Setelah lolos dari beton pertama, Anna beserta dua putri kecilnya masih harus naik ke tembok beton kedua. Dia dan anaknya terlihat susah payah melewati pagar itu.

Setelah itu, hanya ada bangku plastik yang mulai rusak menunggu di balik tembok untuk tempat kaki keluarga ini berpijak, sebelum benar-benar berdiri di atas tanah.

"Saya sudah lima tahun tinggal di rumah ini," kata Anna saat ditemui di rumahnya, Jalan Akasia, Ciledug, Tangerang, Jumat (12/3/2021) siang.

Baca juga: Jasad Bayi Terbungkus Plastik di Tangerang Awalnya Ditemukan Pencari Sampah

Saat pertama tinggal di wilayah itu, Anna mengungkapkan bahwa tidak mendapati kesulitan apapun. Rumah seluas sekira 1.000 meter itu, dibeli oleh almarhum ayahnya sekira 5-7 tahun lalu dengan harga murah melalui proses lelang, lengkap dengan bangunan rumahnya.

Baca juga: 20 Ribu Warga Lansia Kota Tangerang Bakal Disuntik Vaksin Covid-19

"Dua tahun lalu pagar beton depan rumah dibangun. Tetapi saat itu kami masih dikasih akses masuk ke rumah melalui jalan pintu gerbang, dan jalan yang dibuka hanya untuk satu motor saja," sambung Anna.

Tetapi, pada 22-23 Februari 2021, pihak ahli waris yang juga tetangganya itu menutup akses utama masuk ke rumahnya dengan pagar beton setinggi 2 meter. Hingga kini, tak jelas alasan penutupan tersebut.

Dia dan keluarganya juga mengaku sangat ketakutan, apalagi penutupan akses jalan rumahnya itu disertai dengan ancaman.

"Ada dua rumah yang terisolasi, rumah saya dan bidan. Tapi bidan dikasih kunci gerbang depan, saya tidak. Saya pernah minta kunci sama bidannya, tapi nggak boleh. Selain lewat tembok, bisa juga lewat belakang, dari kuburan. Tapi saya takut," ujar dia.

Anna pun menceritakan saat rumahnya kebanjiran akibat luapan Kali Maharta pada Februari 2021. Pagar tembok beton di depan rumahnya pun roboh, diduga akibat tidak kuat menahan kuatnya arus kali.

"Sebelum banjir, akses jalan masih dibuka, tapi lewat gang depan. Pas banjir, jalanan banjir. Tembok beton pada roboh. Nah Ruly (ahli waris) bilang, tembok itu kita yang robohin. Padahal mana bisa kita robohin tembok beton. Baru jalan ditutup dibeton," jelasnya.

Anna dan keluarga pun tidak mengetahui penyebab ahli waris menutup akses jalan utama depan rumahnya. Saat melakukan pembetonan, adiknya sempat bertanya namun dijawab emosional.

"Tidak tahu, dia dateng marah-marah bawa golok dan mengancam mamah saya dengan golok. Sekarang mamah saya sakit, kepikiran," tutur dia.

Sejak akses masuk rumahnya ditutup, Anna sangat kesulitan. Keluarga seperti terpenjara di rumah sendiri. Tidak hanya untuk keperluan membeli makan, untuk mengantar anaknya les pun dirinya sangat kesulitan. Pagar beton yang menutup rumahnya benar-benar membuat hidupnya menjadi terpenjara.

Orangtuanya juga telah melaporkan kejadian yang menimpanya dengan pemerintah setempat namun belum ada tindakan tegas.

"Saya kalau mau antar les anak lewat pintu gerbang, pinjem kunci. Kadang dikasih. Tetapi pas sudah keluar, nggak bisa ngapa-ngapain lagi. Nggak bisa masuk, harus manjat. Soalnya nggak dikasih kunci. Anak saya takut, dia lihat mamah diancam golok," tukasnya.

(fkh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini