Kisah Nama Tanjung Priok dari Bunga Tanjung dan Periuk Habib Hasan

Doddy Handoko , Okezone · Senin 22 Maret 2021 06:02 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 22 338 2381666 kisah-nama-tanjung-priok-dari-bunga-tanjung-dan-periuk-habib-hasan-2ZjBwrGfng.jpeg Makam Mbah Priok. (Foto: Okezone.com)

MBAH Priok seorang ulama yang memiliki nama asli Al Imam Al`Arif Billah Sayyidina Al Habib Hasan bin Muhammad Al Haddad RA.

Satu di antara keturunan dari Mbah Priuk yaitu Habib Ali mengisahkan bahwa Habib Hasan bin Muhammad Al-Haddad lahir di di Ulu, Palembang, Sumatera selatan, pada tahun 1291 H / 1870 M. Semasa kecil beliau mengaji kepada kakek dan ayahnya di Palembang.

Saat remaja, beliau mengembara selama baberapa tahun ke Hadramaut, Yaman, untuk belajar agama, sekaligus menelusuri jejak leluhurnya, Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad, Shohib Ratib Haddad, yang hingga kini masih dibaca sebagian besar kaum muslimin Indonesia. Ia menetap beberapa tahun lamanya, setelah itu kembali ke tempat kelahirannya, di Ulu, Palembang.

Ketika petani Banten, dibantu para ulama, memberontak kepada kompeni Belanda (tahun 1880), banyak ulama melarikan diri ke Palembang; dan di sana mereka mendapat perlindungan dari Habib Hasan. 

Baca juga: Kisah Laskar Mataram Bangun Masjid di Betawi

"Tentu saja pemerintah kolonial tidak senang. Dan sejak itu, ia selalu diincar oleh mata-mata Belanda," kata Habib Ali. 

Pada tahun 1899, ketika usianya 29 tahun, beliau berkunjung ke Jawa, ditemani saudaranya, Habib Ali Al-Haddad, dan tiga orang pembantunya, untuk berziarah ke makam Habib Husein Al Aydrus di Luar Batang, Jakarta Utara, Sunan Gunung Jati di Cirebon dan Sunan Ampel di Surabaya. 

"Dalam perjalanan menggunakan perahu layar itu, beliau banyak menghadapi gangguan dan rintangan. Mata-mata kompeni Belanda selalu saja mengincarnya. Sebelum sampai di Batavia, perahunya di bombardir oleh Belanda. Tapi Alhamdulillah, seluruh rombongan dapat melanjutkan perjalanan sampai di Batavia," ungkapnya. 

Dalam perjalanan kurang lebih 2 bulan lamanya, Habib Hasan Bin Muhammad Al Haddad, singgah dibeberapa tempat. Ketika sedang di perjalanan, perahu tersebut beserta rombongannya dihantam badai dan ombak yang disertai hujan yang sangat deras, sehingga semua perbekalan yang ada di dalam perahu terhambur dan terlempar semua. Adapun yang tersisa hanyalah beras yang tercecer beberapa liter saja, dan alat menanak nasi (periuk/priok).

Baca juga: Kisah Pembunuhan Sultan Yogya Ditusuk Selir Kesayangan

"Untuk menanak nasi menggunakan kayu bakar dengan gagang dayung. Lalu ketika perbekalan habis, jubah beliau dimasukkan ke dalam priok lalu beliau berdoa ketika dibuka jadilah nasi dengan karomahnya Mbah Priuk," ujarnya.

Beberapa hari kemudian datang lagi badai dan ombak yang lebih besar disertai dengan hujan dan guntur yang menggelegar, sehingga perahu pun tidak dapat lagi dikendalikan dan akhirnya perahu karam (terbalik).

Kejadian tersebut mengakibatkan meninggalnya 3 orang. Adapun Habib Hasan Bin Muhammad Al Haddad dan Habib Ali Al Haddad, selamat lalu dengan susah payah berenang untuk mencapai perahu yang dalam keadaan posisi terbalik.

Kemudian di atas perahu itu dapat melaksanakan sholat berjamaah dan dilanjutkan dengan berdoa. Di dalam kondisi yang sudah lemah, kurang lebih 10 hari lamanya tidak makan, sampai akhirnya beliau jatuh sakit dan tidak dapat tertolong lagi oleh Habib Ali Al Haddad, sehingga wafatlah Habib Hasan Bin Muhammad Al Haddad. 

Sedangkan Habib Ali Al Haddad, masih dalam kondisi lemah duduk diatas perahu bersama jenazah Habib Hasan Bin Muhammad Al Haddad dan begitu juga priuk (alat memasak nasi) dan sebuah dayung, terdorong oleh ombak, dan diiringi ribuan ikan lumba-lumba, sehingga akhirnya sampai ke tepian pantai Menanjung.

Para nelayan yang menemukannya segera menolong dan memakamkan jenazah Habib Hasan. Kayu dayung yang sudah patah digunakan sebagai nisan dibagian kepala, sementara di bagian kaki ditancapkan nisan dari sebatang kayu sebesar kaki anak-anak.

"Sementara priok nasinya ditaruh di sisi makam. Sebagai pertanda, di atas makamnya ditanam bunga tanjung," tukasnya.

Masyarakat di sekitar daerah itu melihat kuburan yang ada prioknya itu di malam hari selalu bercahaya. Lama-kelamaan masyarakat menamakan daerah tersebut Tanjung Priok. Sesuai yang mereka lihat di makam Habib Hasan, yaitu bunga tanjung dan priok.

Konon, priok tersebut lama-lama bergeser dan akhirnya sampai ke laut. Banyak orang yang bercerita bahwa, tiga atau empat tahun sekali, priok tersebut muncul di laut dengan ukuran kurang lebih sebesar rumah. Karena kejadian itulah, banyak orang menyebut daerah itu Tanjung Priok.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini