Waspadai Modus Penipuan Lowongan Kerja Berbayar di Tengah Pandemi Covid-19

Carlos Roy Fajarta, · Kamis 25 Maret 2021 14:27 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 25 338 2383877 waspadai-modus-penipuan-lowongan-kerja-berbayar-di-tengah-pandemi-covid-19-WGxFm2Apr7.jpg Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Yusri (foto: Okezone.com)

JAKARTA - Di masa pandemi virus Corona (Covid-19), banyak masyarakat khususnya generasi muda sedang mencari pekerjaan di berbagai bidang usaha, diantaranya perusahaan swasta maupun BUMN. Namun, perlu diwaspadai adanya penipuan.

Hal inilah yang kerap dimanfaatkan oleh oknum-oknum sindikat penipuan yang mengatasnamakan rekrutmen perusahaan tertentu. Oknum ini menjanjikan korbannya akan diterima di perusahaan tersebut dengan membayar sejumlah nominal uang (uang admin, atau uang akomodasi, uang transportasi, dan sejenisnya).

Baca juga: Pokemon dan Manusia Silver Bisa Keluarkan Gelombang Elektromagnetik Terjaring Razia Gabungan di Jakarta

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Yusri Yunus meminta masyarakat untuk lebih waspada terkait kasus penipuan lowongan pekerjaan di berbagai perusahaan (khususnya BUMN) yang kian marak terjadi.

"Kami melihat ada kasus tindakan manipulasi data seolah-olah otentik melalui media elektronik yang dilakukan tersangka MTN dan TML. Mengundang orang yang berminat di rekrutmen, atau bekerja di beberapa perusahaan. Mereka kepada orang-orang bisa bekerja melalui media sosial dengan persyaratan termasuk pembayaran uang tertentu," ujar Yusri Yunus di Mapolda Metro Jaya, Kamis (25/3/2021).

Baca juga: Waspada, Aksi Bajing Loncat Kembali Marak di Cilincing

Para pelaku memalsukan logo perusahaan dan membuat website palsu dengan nama mirip perusahaan yang akan dipalsukan. Dalam kasus yang dilakukan para tersangka perusahaan yang dipalsukan yakni BNI dan sejumlah bank BUMN lainnya, Pertamina, Angkasa Pura, dan berbagai perusahaan BUMN lainnya.

"Bila ada yang sudah mendaftar kemudian diberikan syarat biaya transportasi yang perlu disiapkan korban Rp 1,7 juta. Untuk tersangka MTN sejak setahun terakhir beraksi meraup Rp 40 juta," tambah Yusri Yunus.

Pada pelaku dijerat dengan Pasal 35 dan Pasal 51 UU RI No. 19 tahun 2016 tentang perubahan atas UU RI No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dengan ancaman 12 tahun penjara dan denda Rp 12 Miliar.

(wal)

1
1

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini