Trotoar Rp21 Miliar Jadi Lapak Parkir Liar di Tangsel, Komunitas Sepeda Curhat Begini

Hambali, Okezone · Selasa 06 April 2021 12:07 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 06 338 2390135 trotoar-rp21-miliar-jadi-lapak-parkir-liar-di-tangsel-komunitas-sepeda-curhat-begini-sXv4cVYEtH.jpg Parkir liar di jalur sepeda.(Foto:Okezone/Hambali)

TANGERANG SELATAN - Komunitas sepeda menyesalkan banyaknya parkir liar yang menyerobot jalur trotoar di sepanjang Jalan Rawa Buntu, Serpong, Tangerang Selatan (Tangsel). Padahal, trotoar di sana baru saja rampung dibangun beberapa waktu lalu.

Dari data yang dihimpun, pembangunan trotoar itu menggunakan anggaran APBD tahun 2020 dengan pagu sebesar Rp21 miliar. Pengerjaannya dilakukan oleh Dinas Pekerjaan Umum (PU), beriringan dengan pelebaran jalan Rawa Buntu sepanjang 1.350 meter.

Sayangnya, trotoar yang menopang para pejalan kaki, pesepeda dan penyandang disabilitas itu kini disalah fungsikan. Deretan mobil-mobil terparkir melintang di atasnya, kondisi demikian semakin menjadi pada waktu jam makan siang hingga sore hari.

Baca Juga: Razia Parkir Liar di Depan Kuningan City, Belasan Motor Digembosi

Masyarakat dari komunitas sepeda, menyesalkan jika lahan trotoar yang baru selesai dibangun itu malah dijadikan lahan parkir liar. Menurut mereka, pemerintah dan dinas terkait harusnya tak fokus sekedar membangun tapi juga memberikan pengawasan.

Baca Juga: Dishub DKI Angkut Motor yang Parkir Liar di Depan RSCM

 "Sayang ya, karena itu menggunakan anggaran cukup besar tapi di lapangan justru disalah fungsikan. Kita ini di Tangsel kesannya terbiasa sekedar membangun saja, tapi perawatan, pengawasannya lemah. Asal bangun, lalu perkara nanti bagaimana itu urusan nanti," kata pembina komunitas sepeda Noris Owner Community (NORC) Chapter Tangsel, Andi Permana, Selasa (6/04/21).

Dia mengatakan, penyediaan pedestrian atau trotoar sangat membantu bagi para penggunanya. Termasuk mereka yang memilih bersepeda ke tempat kerja. Oleh karena itu menurutnya, pemerintah harus segera mencarikan solusi kongkrit agar parkir liar tak lagi berada di atas trotoar.

"Kalau dipelihara dengan baik, kita sangat mengapresiasi sekali. Terutama buat pesepeda, bikers, yang back to work (BTW), itu sangat membantu sekali. Maka nya jangka panjangnya harus dicarikan solusi, tentu melibatkan banyak pihak. Sedangkan untuk jangka pendeknya, harus ada tindakan juga di lapangan," ucapnya.

Kepala Dinas PU, Aries Kurniawan, mengatakan, pihaknya telah menggelar rapat kordinasi dengan Dinas Perhubungan (Dishub), Satpol PP dan kepolisian terkait keberadaan parkir liar di atas trotoar Jalan Rawa Buntu. Kewenangannya, menurut dia, kini lebih banyak diranah Dishub.

"Baru dirapatkan tadi terkait masalah trotoar. Konsep penataan parkir nanti dikonsep sama Dishub, penetapan lokasi parkir oleh Dishub, perlengkapan jalan berupa marka atau rambu oleh Dishub, penindakan atau penertiban ini oleh Polres, Dishub dan Satpol PP," jelasnya.

Dilanjutkan Aries, pengerjaan pedestrian di Jalan Rawa Buntu mengikuti desain pedestrian di DKI Jakarta. Di mana dibangun untuk memudahkan pejalan kaki, pesepeda dan penyandang disabilitas. Hanya saja, pemasangan Bollard atau patok pembatas jalan dan trotoar tak bisa dilakukan di semua sisi trotoar karena ditentang para pedagang dan pemilik usaha.

"Kalau bollard itu kan sebagai pembatas saja, makanya waktu itu kita hanya pasang di sisi pedestrian bagian ujung, yang banyak penjual bambunya. Kita nggak pasang seluruhnya, karena ditentang sama pedagang di sana," ungkapnya.

Sebelumnya, Lurah Rawa Buntu, Harun, memertanyakan pengerjaan trotoar di sepanjang Jalan Rawa Buntu tanpa dipasangi Bollard di bagian sisinya. Padahal kata dia, selain sebagai pembatas Bollard bisa juga berfungsi untuk menghalangi kendaraan yang akan parkir di atas trotoar itu.

"Kalau terbuka begini kan pasti banyak (kendaraan) yang masuk, harusnya diberi semacam pagar kecil begitu waktu dibangun," ujarnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini