Tersangka Penyuntik Filler Payudara Abal-Abal Incar Model Medsos

Dimas Choirul, MNC Media · Selasa 06 April 2021 17:23 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 06 338 2390373 tersangka-penyuntik-filler-payudara-abal-abal-incar-model-medsos-Bzv6SAhoEc.jpg Ilustrasi (Foto : Shutterstock)

JAKARTA - Tersangka dugaan malapraktik suntik filler payudara abal-abal berinisial SR, menyasar para model media sosial (medsos) untuk datang ke tempat praktiknya. Ia juga memaksimalkan para pasiennya untuk mengajak orang lain dengan iming-iming harga murah.

"Jadi saat ini berdasarkan hasil penyidikan kami, terkait yang menjadi korban dari tersangka SR ini adalah model-model di media sosial," ujar Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Barat AKBP Teuku Arsya Khadafi Arsya saat konferensi pers, Selasa (6/4/2021).

Arsya mengatakan, dalam usaha prakteknya, SR tidak banyak melakukan promosi besar-besaran di media sosial. Ia menjelaskan, strategi pemasaran yang digunakan adalah dengan metode getok ular atau dari mulut ke mulut.

"Buat testimoni, jadi seandainya ada orang yang pengen disuntik, dengan harga normal sekali suntik adalah 3 juta untuk yang 250 cc, tapi jika dia bisa membawa pasien baru semisal dua orang nanti dapet diskon jadi dia tidak bayar 3 juta. Dia buat penjualan dari kegiatan filler ini cukup banyak karena korban giat mencari pasien-pasien baru untuk SR," tuturnya.

Arsya menjelaskan, sebelum membuka praktek penyuntikan filler tersebut, awalnya SR mencoba membeli cairan filler kepada tersangka ML yang sudah diamankan polisi, sebanyak 15 paket atau 15 liter. SR kemudian belajar dengan dokter privatnya, sekaligus mencoba menyuntikan dirinya sendiri.

"SR juga sudah mencoba sendiri 1 paket. menurut SR dirinya tidak mengalami gangguan apa-apa," kata Arsya.

Baca Juga : Polres Metro Jakarta Barat Buka Posko Korban Malapraktik Pembesar Payudara

Kepada polisi, SR mengaku sudah menyuntik 15 paket cairan kepada para pasiennya. Namun yang melaporkan ke pihak kepolisian baru dua orang. Dua orang korban tersebut mengaku mengalami infeksi, yakni keluarnya cairan nanah pada payudaranya.

"Tapi sudah saya sampaikan yang menjadi hambatan korban untuk melaporkan karena korban-korban ini malu karena dirinya mengalami infeksi dari filler ilegal ini," katanya.

"Kami juga tetap membuka posko pengaduan manakala setelah rilis ini ada masy yang mengalami hal yang sama. Sila datang ke sini," pungkasnya.

(aky)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini