Kisah Makam Habib di Masjid Kampung Bandan yang Membuat Tiang Penopang Jalan Layang Ambruk

Doddy Handoko , Okezone · Minggu 18 April 2021 06:53 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 18 338 2396487 kisah-makam-habib-di-masjid-kampung-bandan-yang-membuat-tiang-penopang-jalan-layang-ambruk-4LGbWycGSg.jpg Masjid Al Mukarromah Kampung Bandan, Ancol, Jakarta Utara. (Foto : Okezone/Rachmat Fazhry)

KAMPUNG Bandan terletak tidak jauh dari Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta Utara. Di sana terdapat makam Sayid yang merupakan penyebar agama Islam pertama di Indonesia. Ketiga makam itu, terdiri dari Makam Habib Mohamad Bin Umar Alkudsi, Habib Ali Bin Abdurrahman Ba'alwi, dan Habib Abdurrahman Bin Alwi Asysyathri. Makam itu berada di dalam kompleks masjid.

Juru kunci makam, Habib Alwi, menjelaskan, masjid Kampung Bandan, didirikan oleh Habib Abdurrahman Bin Alwi Asy-Syathri pada tahun 1789.

Habib Abdurrahman membuat sebuah tempat persinggahan untuk berteduh dan sembahyang bagi para peziarah di samping makam tersebut.

Namun karena semakin banyak para peziarah yang datang ke kuburan kedua wali tersebut, akhirnya Habib Abdurrahman mendirikan sebuah surau.

Pada tahun 1947, surau tersebut diubah oleh Habib Alwi Asy Syathri menjadi bangunan masjid dengan 12 tiang penopang. Karena di Kampung Bandan saat itu belum ada tempat ibadah untuk masyarakat.

“Nama masjid sudah dikenal dengan sebutan Masjid Keramat Kampung Bandan bernama resmi Masjid Jami Al Mukaromah. Tapi hingga saat ini masyarakat dan para peziarah lebih mengenal masjid ini dengan nama Masjid Kramat Kampung Bandan,” ungkap Alwi.

Ada peristiwa mistis terkait jalan tol layang hendak dibangun di sekitar makam pada 1994.

Ceritanya, pengembang proyek akan membangun jalan layang melintas di atas makam.

Masjid akan digusur untuk jalan layang tersebut. Jika terlaksana, letak masjid tersebut nantinya akan berada di bawah jalan layang.

Namun, pada saat pembangunan tiang penyangga jalan tersebut patah dan ambruk. Pembangunan akhirnya dilakukan dengan cara manual, tapi tetap saja tiang penyangga tidak bisa berdiri kokoh.

Pekerja terus mengejar pengerjaan jalan tol yang dirasakan sudah terlambat tersebut dengan tetap bekerja pada hari Jumat, tanpa menghiraukan imbauan pengurus masjid untuk tidak melakukan aktivitas pembangunan pada hari tersebut.

Baca Juga : Misteri Asal Usul Wali Songo dan Syekh Jumadil Kubro yang Makamnya di Beberapa Tempat

"Akhirnya, semua beton dan tiang penyangga yang sedang dikerjakan hancur dan menewaskan banyak pekerjanya," katanya.

Kabarnya, pimpro pembangunan jalan tol tidak melihat ada masjid ini pada saat melakukan penelitian dan pemotretan dari udara. Baru setelah kejadian ambruknya tiang penyangga yang menewaskan beberapa pekerja, pimpro tersebut datang ke masjid.

"Mereka baru mengetahui kalau masjid ini keramat dan akhirnya sepakat untuk menggeser area jalan tol ke sebelah selatan,"ucapnya.

Pengembang akhirnya mengalah dan membelokkan arah jalan tol, agar tidak lewat di atas makam.

Berdasarkan catatan buku sejarah, dijelaskan beberapa kisah asal muasal mengapa kawasan ini disebut Kampung Bandan. Pertama, kampung yang berlokasi di dekat Pelabuhan Sunda Kelapa ini diperkirakan berasal dari kata Banda, sebuah pulau di Maluku.

Pada zaman VOC, sekumpulan masyarakat Banda, menghuni kawasan ini. Penyebutan ini d punya kemiripan seperti penyebutan nama kampung China sebagai pecinan, atau nama tempat memungut pajak atau cukai (bea) disebut Pabean, dan Pekojan sebagai perkampungan orang Koja (Arab).

Banda juga bisa berasal dari kata Banda dalam bahasa Jawa berarti ikatan dibanda (diikat). Ini dihubungkan dengan peristiwa yang sering dilihat oleh warga pada zaman pendudukan Jepang. Ketika itu Jepang sering membawa pemberontakan dengan tangan terikat melewati kampung ini untuk dieksekusi di Ancol.

Ketiga, Banda merupakan pengucapan dari kata Pandan. Sebab di masa lalu kampung ini dipenuhi pohon pandan sehingga warga menyebut Kampung Pandan kemudian menjadi Kampung Bandan.

Sejarah menyebutkan kampung ini merupakan penampungan budak dari Pulau Banda, Maluku, ketika JP Coen menaklukan pulau itu pada 1621. Pembantain besar-besaran dilakukan Coen. Mereka yang selamat diboyong ke Batavia, dan budak-budak tadi memberontak melawan VOC di Marunda, Jakarta Utara.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini