Curhat Pengguna KRL Commuter Line: Berdesakan di Tengah Pandemi Covid-19

Hasan Kurniawan, Okezone · Minggu 02 Mei 2021 13:53 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 02 338 2404291 curhat-pengguna-krl-commuter-line-berdesakan-di-tengah-pandemi-covid-19-TfXS8c4cDs.jpg Ilustrasi (Foto : Okezone.com)

TANGERANG - Masih terjadinya antrean panjang dan kerumunan di KRL Commuter Line Jabodetabek, kembali mendapat sorotan. Karena, kondisi tersebut sangat rawan menjadi cluster baru Covid-19.

Seperti diungkapkan salah seorang netizen di Twitter vn.aditya @MrLahap. Dalam Tweetnya, ia mengungkapkan keluh kesah para pengguna commuter line yang kerap terjadi kerumunan. Tetapi, seolah tidak berdaya menghadapi keluhan tersebut.

"Dear CL, sebagai orang awam, aku ingin berterima kasih untuk segala usahamu memajukan sarana transportasi di area Jabodetabek ini. Dan terima kasih untuk terus sabar menghadapi dilema kami," katanya, dikutip dari Twitter, Minggu (2/5/2021).

Dalam sejumlah postingan yang diunggah, tampak sejumlah keluhan pengguna KRL Commuter Line Jabodetabek disampaikan langsung melalui Twitter @CommuterLine, seperti antrean panjang penumpang di Stasiun Bogor yang terjadi pagi hari.

Kemudian, kerumunan di dalam KRL Commuter Line yang tanpa jarak, penumpang menumpuk dan mepet-mepetan. Begitupun dengan antrean panjang yang terjadi di Stasiun Jayakarta seperti di Bogor. Termasuk pintu KRL yang tidak bisa buka otomatis.

Semua keluhan itu, diunggah kembali. Namun, tetap tidak ada solusi. Sehingga tinggal menjadi keluhan saja. Menurut netizen ini, semua pihak bertanggung jawab terhadap terjadinya penumpukan tersebut.

"Aku kagum dengan teknologi sosial media yang membuat masyarakat sekarang aktif untuk berinteraksi dengan CL pada setiap masalah atau pun saran. Dan ku akui pula admin CL sangat responsif dalam menjawab," sambung akun itu lagi.

Baca Juga : Viral! Suami Istri Cekcok di Jalan Berujung Penusukan

"Kereta sebelum pandemi? Pastinya penuh sangat! (apalagi jam sibuk ye). Setelah pandemi dan situasi new normal saat ini? Ya makin penuh juga malih, apalagi ada prokes. Kebayangkan aturan pemerintah sendiri harus diterapkan di transportasi andalan masyarakat?," tambah pemilik akun @MrLahap itu.

Menurutnya, upaya maksimal telah dilakukan pihak KRL Commuter Line. Terutama dalam pembatasan jumlah penumpang dengan dipangkasnya kuota tiap gerbang. Tetapi kebijakan ini juga berdampak.

"Ibarat kereta penuh sehari-hari harus dipangkas kuota tiap gerbangnya. Ya nambah antrian lah, dan wajar kalau antriannya panjang. Kecuali lu punya Doraemon, ya enak. Tinggal dengak kepala, terus meluncur pakai baling-baling bambu," ungkapnya.

Upaya yang dilakukan KRL Commuter Line mulai dari tanda mark ditiap gerbong, tiap kursi, antre menuju stasiun, dan sebagainya. Termasuk juga lansia memiliki jam tersendiri. Bahkan, larangan balita naik KRL agar prokes tetap berjalan patut diapresiasi.

Persoalannya, pengguna jasa KRL Commuter Line Jabodetabek tetap banyak dan tidak bisa dibendung. Apalagi, banyak dari penumpang KRL itu memang rela berdesakan, karena biayanya yang murah.

"Kita sebagai masyarakat harusnya juga aware sama masalah ini, bayangkan posisinya. Ngerasa kereta penuh atau ngantri, ya turun dong ke kereta selanjutnya atau pakai mode transportasi lain yang notabenenya kemungkinan mahal," sambungnya.

Menurutnya, persoalan kerumunan dan antrean di KRL Commuter Line Jabodetabek, merupakan masalah bersama. Apalagi, moda transportasi ini masih menjadi primadona dan belum tergantikan.

Keluhan ini pun mendapat jawaban langsung dari pihak @CommuterLine. "Terima kasih. Apresiasinya akan menjadi masukan dan motivasi kami untuk terus memberikan pelayanan yang lebih baik lagi untuk memenuhi kepuasan pelanggan dengan tetap menjaga protokol kesehatan," ungkapnya.

VP Corporate Secretary KAI Commuter Anne Purba mengatakan, kerumunan yang terjadi di Stasiun Tanah Abang tempo hari berhubungan dengan kegiatan ekonomi masyarakat di kawasan Pasar Tanah Abang yang juga dipenuhi pengunjung.

Baca Juga : Satgas Penyekatan Mudik Lebaran Gelar Razia di Exit Tol Ngawi, Mobil Bawa Uang Rp2,1 Miliar Bikin Heboh

"Antrean penyekatan pengguna merupakan upaya untuk menjaga agar jumlah pengguna yang dapat naik ke dalam tiap kereta tidak melebihi ketentuan yaitu 74 pengguna per kereta. Pengguna juga wajib mengikuti pengukuran suhu tubuh," paparnya.

Dijelaskan dia, frekuensi perjalanan KRL juga tetap dijaga dengan mengoperasikan 984 perjalanan KRL per harinya. Sehingga, prokes Covid-19 tetap dilaksanakan dan cluster Covid-19 bisa dihindari.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini