Saksi Ahli Sebut Habib Rizieq Tak Tepat Didakwa Pasal Penghasutan, Massa Datang secara Naluriah

Okto Rizki Alpino, Sindonews · Kamis 06 Mei 2021 17:21 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 06 338 2406726 saksi-ahli-sebut-habib-rizieq-tak-tepat-didakwa-pasal-penghasutan-massa-datang-secara-naluriah-kSFtle0B4w.jpg Sidang Habib Rizieq. (Foto: Okto Rizki)

JAKARTA - Dian Adriawan, ahli hukum pidana Universitas Trisakti, selaku saksi yang dihadirkan dalam sidang lanjutan Habib Rizeq Shihab (HRS) menyatakan pasal 160 KUHP yang didakwakan kepada terdakwa tidak tepat.

Menurutnya, pasal itu merupakan terjemahan bahasa Belanda dan tidak memiliki arti kata yang utuh. 

"Dalam kamus bahasa Indonesia-Belanda, itu artinya memaksa bertindak. Kalau kita melihat kata menghasut, dalam kamus bahasa Indonesia, itu artinya membangkitkan hati orang supaya marah, memberontak dan sebagainya," kata Dian di dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Kamis (6/5/2021). 

Baca juga: Bersaksi di Sidang HRS, Slamet Maarif: Yang Mulai Salawat Petugas Bandara dan TNI

Dian menjelaskan, dalam kasus kerumunan Petamburan dan Megamendung, warga datang secara naluriah karena hendak mengikuti kegiatan peringatan Maulid Nabi SAW dan peletakan batu pertama di Pondok Pesantren Agrokultural Markaz Syariah.

"Undangan untuk menghadiri acara keagamaan bukan merupakan tindak penghasutan," tegasnya.

Atas dasar itu, kata Dian, penghasutan yang dimaksud dalam pasal 160 KUHP tidak sesuai lantaran memiliki konotasi negatif. Sebab, lanjut dia, dalam kegiatan itu tidak bertujuan membuat kerusuhan.

"Pengertian dari pada Pasal 160 ini berbeda dengan maksud yang sebenarnya. Jadi kata menghasut itu membangkitkan hati orang supaya marah, melawan, atau memberontak," katanya.

Baca juga: Slamet Maarif dan Sobri Lubis Jadi Saksi Sidang Habib Rizieq

Sebagaimana diketahui, dalam kasus kerumunan Petamburan, Rizieq didakwa telah melakukan penghasutan hingga menciptakan kerumunan di Petamburan dalam acara pernikahan putrinya dan maulid Nabi Muhammad SAW.

Selanjutnya dalam kasus kerumunan Megamendung, Habib Rizieq didakwa telah melanggar aturan kekarantinaan kesehatan dengan menghadiri acara di Pondok Pesantren Agrokultural Markaz Syariah, Megamendung, Puncak, Kabupaten Bogor 13 November 2020 lalu.

(qlh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini