Share

Ketika Ali Sadikin Kumpulkan Para Pencopet Lalu Menamparnya

Tim Okezone, Okezone · Minggu 30 Mei 2021 09:39 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 30 338 2417451 ketika-ali-sadikin-kumpulkan-para-pencopet-lalu-menamparnya-f9c1V2g279.jpg Mantan Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin semasa hidup (foto; istimewa)

ALI Sadikin merupakan Gubernur DKI Jakarta yang paling legendaris. Pria kelahiran Sumedang, Jawa Barat, 7 Juli 1927 ini bercita-cita menjadi pelaut.

Sosoknya dikenal keras dan agak kontroversi. Simpel tapi langsung ke tujuan. "Orangnya keras. Dalam bahasa Belandanya malah ada yang berkata dia koppige vent, koppig," begitu komentar Presiden Soekarno.

Baca juga:  Kisah Heroik Ali Sadikin, Jenderal Gaya Hollywood yang Maju Perang Paling Depan

Setelah pada 1963-1966 menjabat sebagai Menteri Perhubungan Laut sekaligus Menteri Koordinator Urusan-urusan Maritim, Ali diberi tugas khusus oleh Soekarno untuk memimpin ibukota. Demikian dikutip dari buku 100 Tokoh yang Mengubah Indonesia, Penerbit Narasi.

Ia dilantik sebagai Gubernur DKI oleh Presiden Soekarno pada tanggal 28 April 1966. Selama sebelas tahun (1966­1977), ia berupaya memoles Jakarta dengan kreativitas yang tinggi dan sikap yang tegas.

Baca juga;  Peristiwa 20 Mei: Hari Kebangkitan Nasional hingga Mantan Gubernur DKI Ali Sadikin Wafat

Sejak awal menjabat Gubernur DKI, Ali secara intensif blusukan alias keluyuran ke semua penjuru kota, menjelajahi jalanan dan gang-gang kumuh. Ia mendatangi pedagang di pinggir jalan, pengemis, dan penghuni gubuk-gubuk liar.

"Saya merasakan kehinaan jutaan orang yang terpaksa mandi, cuci mulut, dan cuci pakaian di sungai-sungai terbuka," tutur Bang Ali.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut bersama Lifebuoy x MNC Peduli Tengah Berlangsung!

Jakarta pada masa itu amat kumuh. Pasar yang becek, jalanan berlubang setinggi lutut, serta timbunan sampah ada di mana-mana. Sistem angkutan kota runyam, gedung sekolah bobrok, dan fasilitas mandi cuci kakus tanpa air tersebar di mana-mana.

Begitu buruknya situasi Jakarta sehingga para diplomat asing menyebutnya sarang wabah disentri. Saling curiga di antara lapisan masyarakat juga belum surut menyusul tragedi 30 September 1965.

Birokrasi seolah lumpuh di segala lini. Sementara itu, inflasi mencapai 600%, urbanisasi tak terbendung, pengangguran dan kriminalitas merajalela.

Pemerintah DKI hanya punya dana Rp66 juta untuk mengelola kota yang saat itu berpenduduk 4,6 juta jiwa. Ali Sadikin tidak putus asa. Ia menggebrak, berteriak, dan membentak aparat pajak agar mengerahkan pendapatan pajak.

Ia menuntut kerja keras 38 dari jajaran birokrat yang melayani kepentingan publik. Dengan sikap keras, ia mendisiplinkan sedikitnya 30 ribu pegawai kotapraja. Kerja kerasnya sedikit demi sedikit membuahkan hasil.

Masalah kriminalitas juga menjadi perhatiannya. Bang Ali juga tak segan turun dalam operasi penggerebekan pencopet di terminal bus.

"Saya suruh mereka (pencopet) berbaris. Tampar beberapa muka, lalu kami bertemu di Balai Kota," kata Ali.

Tindakan kongkret semacam inilah yang secara signifikan menurunkan tingkat kriminalitas. Simpati untuk Ali Sadikin pun mulai meluas.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini