Share

Kontroversial Ali Sadikin: Tarik Duit Pajak dari Perjudian

Tim Okezone, Okezone · Minggu 30 Mei 2021 15:23 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 30 338 2417545 kontroversial-ali-sadikin-tarik-duit-pajak-dari-perjudian-5sMuwX5X4u.jpg Mantan Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin semasa hidup (foto; Illustrasi Sindo)

ALI Sadikin merupakan salah satu Gubernur DKI Jakarta paling populer. Ali Sadikin juga dikenal sebagai sosok yang kontroversial.

Misalnya saat pemerintahan DKI Jakarta terus dibelit masalah minimnya dana. Saat itu, Ali berpikir keras untuk mencari tambahan pendapatan bagi Pemda DKI. Ia melirik sumber dana alternatif yang sangat subur, yakni perjudian. Dan hal ini menjadi suatu langkah yang memicu kontroversi berkepanjangan.

Sebetulnya UU No. 11/1957 memungkinkan pemerintah daerah memungut pajak atas izin perjudian yang diberikan bagi pengusaha Tionghoa. Sebab judi dianggap bagian dari budaya China. Demikian dikutip dari buku 100 Tokoh yang Mengubah Indonesia, Penerbit Narasi.

Baca juga: Ketika Ali Sadikin Kumpulkan Para Pencopet Lalu Menamparnya

Namun, tak ada pejabat yang berani ambil risiko mengizinkan perjudian, yang haram bagi kaum muslim. Karena terpaksa, Bang Ali tak gentar menantang arus.

"Untuk keperluan rakyat Jakarta, saya berani," katanya.

Baca juga; Kisah Heroik Ali Sadikin, Jenderal Gaya Hollywood yang Maju Perang Paling Depan

Sebagai permulaan, izin perjudian pun diberikan pada pengusaha bemama Apyang dan Yo Putshong. Judi Lotto (lotere totalisator), petak sembilan, dan hwa-hwe, yang tadinya sembunyi-sembunyi, mulai dilakukan secara terang-terangan.

Aneka jenis judi itu pun mulai diramaikan warga non-China. Protes pun datang, terutama dari kaum muslim.

Bagaimana dampak finansialnya? Tak seorang pun menyangkal, limpahan uang perjudian ini memang berdampak positif bagi Jakarta. Gedung sekolah dibangun, rumah sakit didirikan, puskesmas diperbanyak, dan jalan-jalan diperbaiki.

Dengan Proyek Mohammad Husni Thamrin, Ali gencar membenahi pemukiman kumuh. Ia juga merenovasi Taman Monumen Nasional (Monas) serta membangun Taman Ismail Marzuki, Gedung Arsip Nasional, Gelanggang Remaja Kuningan, Pasar Seni Ancol, Sekolah Atlet Ragunan, Planet Senen, sampai lokalisasi pelacuran Kramat Tunggak.

Di akhir masa jabatannya (tahun 1977), Pemda DKI masih memiliki saldo kas Rp17 miliar. Peran Ali Sadikin sangat signifikan dalam menciptakan Jakarta sebagai kota metropolitan dengan fasilitas modern, tidak lagi bercitra sebagai sarang disentri.

Karakter kepemimpinan Ali yang tegas, bermoral, bersih, dan berwibawa, dinilai sebagai teladan yang langka. Ia sukses membangkitkan solidaritas, semangat, dan motivasi rakyat. Di kalangan rakyat kecil, popularitasnya cukup tinggi, walau ia mengizinkan berbagai penggusuran.

Ia mendapat anugerah Ramon Magsaysay pada 1971. Setelah pensiun dati kemiliteran dengan pangkat terakhir Letjen KKO, dan tidak lagi menjabat Gubernur DKI, Bang Ali masih menjalin kontak dengan tokoh-tokoh nasional yang memiliki komitmen tinggi terhadap masa depan bangsa. Keterlibatannya dalam Petisi 50 membuat rezim Orde Baru memberangus hak-hak politiknya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini