Curhat Pengamen Ondel-Ondel: Banyak yang Bilang Berisik, Padahal Seni Budaya

Riezky Maulana, iNews · Senin 14 Juni 2021 14:30 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 14 338 2424864 curhat-pengamen-ondel-ondel-banyak-yang-bilang-berisik-padahal-seni-budaya-QJbb4WunZK.jpg Ilustrasi (Dokumentasi Okezone)

BEKASI - Tiga remaja laki-laki bernama Ilham, Putra, dan Hadi yang merupakan pengamen Ondel-Ondel menyusuri Jalan Boulevard Grand Galaxy City, Bekasi Selatan Minggu (13/6/2021) malam. Ketika itu waktu menunjukkan pukul 20.00 WIB.

Ilham bertugas sebagai pendorong gerobak yang berisikan pengeras suara dengan 10 lagu di dalamnya. Sementara Putra yang masuk ke dalam ondel-ondel, serta Hadi bagian yang menyodorkan kaleng bekas kepada warga sekitar untuk memberikan sepeser rupiah atas penampilan seni yang ditampilkan.

Alunan musiknya memang keras, dari jarak 300 meter pun masih terdengar. Kerap kali ketiganya mendapatkan tatapan sinis dan acuh dari pengunjung kafe atau tempat makan yang didatangi.

"Dari pengunjung banyak yang bilang Ondel-Ondel berisik banget. Padahal dia enggak tahu itu seni budaya," ungkap Ilham yang memiliki nama panggilan Iang.

Iang memiliki pesan kepada mereka yang acap kali nyinyir ketika mereka hadir di ruang publik. Kata Ilham, nikmati saja musiknya, jangan lihat dari tampilan luarnya.

"Dengerin aja udah biar enak. Enggak usah ngomong begitu, yang penting kan kita enggak rese," tuturnya.

iNews.id berkesempatan mengikuti rute ngamen Ilham dkk. Beberapa kali kaleng berwarna abu-abu disodorkan. Rupiah dengan beragam nominal masuk, tapi tak jarang juga, penolakan datang.

Puluhan kilo mereka tempuh di tiap harinya, mulai pukul 16.00 hingga 22.00 WIB. Rute ngamen yang dipilih memang mayoritas tempat yang banyak kafe serta tempat makan gita di Bekasi.

Hampir tiap satu jam sekali, Iang dan Putra bergantian posisi. Terkadang Iang yang mendorong gerobak, Putra yang masuk Ondel-Ondel. Begitu pula sebaliknya. Hanya Hadi yang tetap sebagai membawa kaleng, sebab usianya masih 10 Tahun.

"Paling dari jam 16.00 WIB sampai Maghrib gantian. Nanti dari Maghrib sampai Isya baru berangkat lagi," ungkap Iang.

Iang dan kedua temannya juga beberapa kali dituduh oleh aparat keamanan. Salah satu ceritanya, saat itu hari sudah gelap. Mereka tengah berada di Komsen, Jatiasih, Bekasi.

Ketiga orang ini tengah menunggu angkot langganan yang akan membawa mereka pulang ke rumah. Tetiba, mereka ditegur untuk tidak lagi menyalakan pengeras suara. Beruntungnya, itu hanya imbauan, tak sampai ada kekerasan.

"Waktu itu di Jatiasih, Komsen. Kemaleman nih mau naik angkot, tapi disangka mau dinyalain lagi musiknya. Enggak sampai dipukul sih," ungkapnya.

Dari ketiga remaja ini, mereka mengatakan tak ada satupun orangtuanya yang mengetahui kalau mereka mengamen. Menurut pengakuan Iang yang diamini Putra dan Hadi, orangtuanya hanya tahu kalau mereka bermain di luar rumah.

"(Orangtua) enggak tau sih. Bilangnya main, hiburan," paparnya.

Ketika disinggung apakah ke depannya akan memberitahu orangtua, dari mulai Iang hingga Hadi menggeleng. Bagi mereka, yang terpenting adalah menghibur orang, terutama anak kecil.

"Engga bakal bilang, yang penting kita ngehibur anak-anak kecil," ujarnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini