HUT ke-494 DKI Jakarta, Yuk Berkenalan dengan Primadona Ibu Kota

Suhudmen, MNC Media · Kamis 17 Juni 2021 05:01 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 17 338 2426391 hut-ke-494-dki-jakarta-yuk-berkenalan-dengan-primadona-ibu-kota-NjuvZTM22R.jpg Ilustrasi (Foto: Okezone)

JAKARTADKI Jakarta akan merayakan hari ulang tahunnya yang ke-494 tahun pada 22 Juni 2021 mendatang. Sebagai ibu kota sekaligus beranda Indonesia, Jakarta terus bersolek untuk menampilkan citra diri sebagai kota yang ramah, cantik, dan mempesona bagi warganya.

Tak hanya dihiasi dengan bangunan gedung pencakar langit megah khas kota metropolitan. Jakarta juga menyimpan berbagai bangunan bersejarah yang menjadi ikon ibu kota. Dibangun setelah kemerdekaan, ikon–ikon Jakarta ini seolah ditujukan untuk menunjukkan eksistensi dan kebanggaan sebagai sebuah bangsa yang besar.

Setelah merdeka, Presiden Sukarno memandang Jakarta sebagai mercusuar nasional. Jakarta bagi sang founding father ini ditempatkan sebagai personifikasi semangat baru. Salah satu ikon yang digagas di awal kemerdekaan adalah monumen nasional atau Monas.

Gagasan pembangunan Monas muncul sembilan tahun setelah proklamasi kemerdekaan. Beberapa hari setelah HUT RI ke-9, dibentuklah panitia tugu nasional yang dipimpin Sarwoko Martokusumo.

Baca juga: DKI Jakarta Simpan 6 Situs Purbakala Prasejarah, di Mana Saja?

Untuk menentukan rancangan yang memiliki nilai seni dan filosofis, dibuatlah sayembara yang berlangsung hingga dua kali, tahun 1955 dan 1960. Desain Frederich Silaban yang disempurnakan oleh arsitek istana R.M. Soedarsono akhirnya disetujui menjadi rancangan Monas.

Menjulang di tengah lapangan Medan Merdeka di area seluas 80 hektare, rancang bangun Monas berdasarkan pada konsep pasangan universal abadi lingga dan yoni yang melambangkan kesuburan nusantara. Tugu Monas terdiri atas 117,7 meter obelisk di atas landasan persegi setinggi 17 meter dengan lebar dasar 8 meter dan lebar halaman cawan 45 meter.

Sedangkan lidah api yang berada di puncak Tugu Monas dilapisi emas seberat 35 kilogram. Teuku Markam, seorang tentara sekaligus pengusaha asal Aceh menyumbang 28 kilogram emas.

Baca juga: Kasus Covid-19 Melonjak Tinggi, Testing DKI Sepekan 4 Kali Lipat Standar WHO

Menurut Endrati Fariani selaku Ketua Pengelola Monas, “Teuku Markam punya ekonomi yang cukup, dia seorang pengusaha konstruksi dan mempunyai uang yang berlebih. Diminta oleh Presiden Sukarno untuk membantu membangun Monas. Tentu dengan bangga dan senang hati dia mau menyumbang.”

Selain Tugu Monas yang menjadi tengara Jakarta. Ikon ibu kota lainnya yang tak kalah penting adalah Monumen Selamat Datang. Monumen ini digagas oleh Presiden Sukarno setelah Indonesia terpilih sebagai tuan rumah Asian Games ke IV 1962.

Putra Sang Fajar pun menunjuk Henk Ngantung yang saat itu menjabat sebagai Wakil Gubernur Jakarta untuk mendesain Monumen Selamat Datang. Monumen yang berada di Bundaran Hotel Indonesia ini disimbolkan dengan patung sepasang pemuda pemudi.

Patung yang terbuat dari perunggu seberat 5 ton ini memiliki tinggi 5 meter dari kaki hingga kepala dan berdiri di atas tiang setinggi 10 meter. Pembuatan patung ini dilakukan oleh tim pematung keluarga Arca di bawah pimpinan Edhi Sunarso yang dimulai pada 17 Agustus 1961. Sempat tersendat akibat kekurangan anggaran, Monumen Selamat Datang akhirnya selesai pada 1962.

Baca juga: Dari Langit Jakarta, JK Sebut Daerah Pinggiran Ibu Kota Terlihat Kumuh

Menurut Geni Ngantung yang merupakan anak Henk Ngantung, “patung pasangan muda-mudi menghadap ke utara yang membawa sekuntum bunga dengan riang gembira melambangkan semangat untuk menyambut kedatangan tamu mancanegara dan peserta Asian Games di bandara Internasional Kemayoran.”

Tugu Monas dan Monumen Selamat Datang kini menjadi ikon Jakarta yang mendunia sekaligus kebanggaan setiap anak bangsa. Meski pembangunannya tak lepas dari pro kontra. Bahkan sebagian pihak menilai proyek yang digagas Presiden Sukarno ini hanya menghabiskan anggaran negara dan tak sesuai dengan kondisi perekonomian Indonesia kala itu yang diterpa krisis ekonomi.

Di balik kritik dan tudingan miring atas berbagai proyek mercusuar yang dijalankan, di sisi lain Sukarno juga dianggap sosok cerdas yang sukses mengubah wajah Jakarta menjadi kota yang mencitrakan identitas Indonesia baru pasca-penjajahan kolonial.

Baca juga: Mau Daftar Vaksinasi Covid-19 di Jakarta? Begini Caranya

“Secara tidak langsung dia mengubah semua tata ruang kota-kota kolonial Batavia menjadi kota nasional Jakarta” pungkas JJ Rizal, Sejarawan Betawi.

Namun, seiring dengan laju pembangunan Jakarta, sayangnya bangunan-bangunan ikonik ini tak lagi menjadi primadona. Monumen-monumen yang dulunya jadi kebanggaan bangsa kini seolah tenggelam di tengah belantara mal, gedung pencakar langit dan gegap gempita aktivitas warga ibu kota.

Selamat ulang tahun ke-494 Jakarta. Semoga menjadi kota yang nyaman, aman dan bahagia warganya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini