Sejarah Betawi: Warga Pesisir yang Diberi Nama oleh Belanda

MNC Portal, · Selasa 22 Juni 2021 06:35 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 21 338 2428597 sejarah-betawi-warga-pesisir-yang-diberi-nama-oleh-belanda-OnwzADaEYn.jpg Ilustrasi (Foto: Dokumentasi Okezone)

JAKARTA - Suku Betawi sangat identik dengan Jakarta. Suku Betawi atau orang Betawi bermukim di Jakarta dan daerah-daerah penyangganya seperti Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi.

Lokasi tinggal orang Betawi itu tidak pernah berubah sejak masa kolonial. Dikutip dari buku ‘Masyarakat dan Budaya’ persebaran suku Betawi yang cukup masif di beberapa wilayah ini menjadikannya memiliki banyak kebiasaan dan adat istiadat.

Merunut jauh lagi ke belakang, Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik Pemprov DKI Jakarta dalam laman resminya menjelaskan bahwa suku Betawi mulai terbentuk pada abad ke-17 dan merupakan hasil akulturasi dari beberapa suku seperti Sumatera, Bali, Arab, Cina hingga Portugis.

Karena berasal dari berbagai latar belakang, penduduk ini mulai mencari identitas kelompok agar terbentuk masyarakat yang homogen dengan sendirinya.

Nama Betawi muncul dan merupakan pemberian dari pihak Belanda. Usut punya usut, Betawi diambil dari nama Jakarta pada masa itu, yakni Batavia. Julukan kaum Betawi juga mulai populer pada 1918, saat Mohammad Husni Tamrin membentuk ‘Kaum Betawi’.

Sejarah lain yang diungkap situs resmi Setu Babakan, orang Betawi selanjutnya mulai mencari tempat tinggal layak. Awalnya, mereka memutuskan untuk menghuni kawasan pesisir.

Lanjutnya, bergerak lagi ke tengah hingga pinggir kota. Banyak sebutan untuk orang Betawi pada masa itu. Seperti orang ‘Betawi Kota’, diperuntukkan bagi mereka yang menghuni kawasan kota Jakarta seperti Tanah Abang dan Jatinegara. Ada pula sebutan orang ‘Betawi Ora’ yang diperuntukkan bagi orang Betawi penghuni daerah penyangga Jakarta.

Sementara itu, orang Betawi Kota menyebut kerabat mereka yang ada di daerah penyangga tersebut dengan julukan ‘Betawi Udik’. Lanjutnya, dikenal pula sebutan ‘Betawi Tengah’ yang menetap di antara wilayah kota dengan wilayah pinggiran kota.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini