HUT ke-494, Sejarah Banjir Jakarta dari Zaman Kolonial hingga Milenial

Agnes Teresia, Okezone · Selasa 22 Juni 2021 06:33 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 21 338 2428770 hut-ke-494-sejarah-banjir-jakarta-dari-zaman-kolonial-hingga-milenial-JjLWNRa5SB.jpg Foto: Okezone

JAKARTA – Di usianya yang ke-494, banjir masih menjadi salah satu masalah utama sampai saat ini di DKI Jakarta. Penanganan masalah ini masih menjadi pekerjaan rumah bagi setiap pemimpin Jakarta. Bahkan banjir Jakarta telah berlangsung sejak zaman kolonial, yaitu pada sekitar tahun 1600-an, dimana saat itu Jan Pieterszoon Coen menjabat sebagai Gubernur Jenderal Vereenigde Oost-Indische (VOC).

Kala itu, Coen membuat sejumlah kanal dan sodetan Kali Ciliwung untuk mengatasi banjir yang melanda Batavia (sekarang DKI Jakarta). Namun usahanya tersebut sia-sia, pasalnya Batavia masih diterjang banjir.

(Baca juga: Viral! SPG Cantik Ini Diburu Netizen Usai Bermesraan dengan Suami Orang)

Melansir buku Sejarah Kota Jakarta 1950-1980, banjir disebabkan keadaan lingkungan Jakarta yang dialiri 10 buah sungai besar telah tertutup oleh sebuah kota dengan jaringan drainase yang tidak memadai.

Pada awal tahun 1960 di Jakarta terjadi banjir, setelah mengalami musim hujan yang hebat sehingga 7 kelurahan sangat menderita, terutama daerah Grogol dan sekitarnya. Tetapi dalam perkembangannya gangguan fisik lingkungan seperti banjir dan sulitnya mendapat air bersih di beberapa wilayah tidak menghambat perkembangan di kota Jakarta.

Setiap tahun penduduk bertambah kira-kira 5,3 persen dan tanah kosong yang dibangun hanya untuk perumahan diperkirakan meliputi kira-kira 240 Ha tiap tahun, sedangkan tanah untuk keperluan lain diperkirakan minimal 1.000 Ha tiap tahun. Dengan makin luasnya tanah yang dibangun maka volume air hujan yang harus ditampung dan dialirkan juga tentunya semakin bertambah.

(Baca juga: Seangkatan Kiai Hasyim Asy'ari, Ulama Banten Berusia 154 Tahun Ini Hebohkan Warga)

Hal ini dapat merubah tata perairan di bawah permukaan tanah kota yang sudah tidak menerima curahan air hujan tersebut. Pada tahun 1965 baru kemudian daerah banjir ini dialokasi dan dibuat rencana penanggulangan dalam master plan 1965-1985 yaitu dengan membuat waduk-waduk dan saluran kanal.

Hingga sekarang ini, Pemprov DKI terus berupaya mengatasi banjir dengan membuat waduk. Salah satunya waduk yang dibuat dekat Rusun Tegal Alur. Nantinya waduk ini memiliki kapasitas debit tampungan air dengan volume 6.045 m3 dan kedalaman 3 m. Dengan luas tampungan air 2.015 m2.

"Kegiatan pembuatan dan perapihan Waduk Rusun Tegal Alur oleh Sudin SDA Jakarta Barat di Jalan Lingkungan III Kawasan Tegal Alur," tulis Gubernur DKI Jakarta  Anies Baswedan dalam akun Instagramnya beberapa waktu lalu.

Kini di zaman milenial, banjir masih menjadi momok bagi sebagian besar warga Ibu Kota. Peran serta masyarakat menjaga lingkungan sangat diperlukan untuk mengatasi bencana banjir yang datang hampir setiap tahun.

(fmi)

1
1

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini