Naik KRL Wajib Bawa STRP, Penumpang: Saya Kuli Kalau Hari Ini Enggak Kerja Enggak Digaji

Widya Michella, MNC Media · Senin 12 Juli 2021 10:17 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 12 338 2439228 naik-krl-wajib-bawa-strp-penumpang-saya-kuli-kalau-hari-ini-enggak-kerja-enggak-digaji-QeAqDlP2v9.JPG Penumpang KRL di Stasiun Kranji terlihat tengah berkompromi dengan petugas soal STRP (Foto: MPI/Widya)

BEKASI - Mulai hari ini, 12 Juli 2021, PT. KAI Commuter hanya melayani pekerja di sektor esensial dan kritikal berdasarkan SE Menteri Perhubungan No.50 tahun 2021 demi mendukung kebijakan PPKM Darurat.

Seluruh pekerja di sektor tersebut pun wajib menunjukkan Surat Tanda Registrasi Pekerja (STRP) kepada petugas sebelum memasuki peron kereta.

Jika tidak mempunyai STRP, penumpang dapat menggunakan Surat Keterangan dari Pemerintah Daerah Setempat, atau Surat dari Pimpinan Instansi (Minimal Eselon 2 untuk pemerintahan), pimpinan perusahaan/kantor yang termasuk sektor esensial dan sektor kritikal.

Pemberlakuan ini juga diterapkan di salah satu stasiun KRL, Stasiun Kranji. Terlihat tiga dari pihak kepolisian sedang memeriksa kelengkapan surat penumpang yang hendak menggunakan KRL. Ada juga beberapa orang yang tidak diizinkan masuk lantaran tidak memiliki STRP.

Badru (30) salah satu pekerja kritikal,ditolak masuk lantaran tidak dapat menunjukkan STRP ini mengaku tidak bisa berbuat apa-apa. Menurutnya ia merupakan pekerja harian lepas yang tidak menggunakan STRP karena ditolak, ia tidak jadi bekerja dan tidak mendapat upah di hari ini.

"Emang gapake, saya pekerjaannya menjadi kuli aja, ya mau gamau balik lagi. Kalau tidak kerja ya tidak digaji. Adanya STRP ini sih sedikit ribet cuman karena anjuran Pemerintah jadi gabisa diganggu gugat,"ujar Badrun.

Salah satu warga Kranji, Amin (47) pun menyampaikan jika kebijakan pemerintah justru menyulitkan masyarakat umum khususnya masyarakat ke bawah. Sebab kereta menjadi transportasi andalan lantaran biaya murah dan tidak macet.

"Saya mau ke Cikarang, mau jenguk istri saya sakit di Cikarang padahal lagi buru-buru. Kita kan bukan pekerja, tapi pedagang kelontong sekitar sini,"jelasnya

"Jangan menyulitkan orang yang susah malah makin susah. Sekarang kalau naik kendaraan umum lain, tau sendiri naik mobil elf aja udah 20 ribu, kalo naik kereta kan ngirit terus transportasi nya cepet ga terhambat. Kalo naik mobil udah macet nunggu penumpang,"imbuhnya.

Ia pun berharap pemerintah dapat meninjau kembali peraturan tersebut. "Di tinjau ulang, karena banyak orang yang susah jadi mau kemana-mana terhambat. Apalagi kalo kebutuhan mendadak, Ibadah dan makanan aja ada rukhsahnya dalam keadaan darurat itu YME yang menciptakan. Manusia masa tidak ada toleransinya begitu,"harapnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini