Jual Obat Terapi Covid-19 Harga Selangit, 4 Pegawai Apotek Ditangkap

Abdullah M Surjaya, Koran SI · Kamis 29 Juli 2021 21:35 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 29 338 2448135 jual-obat-terapi-covid-19-harga-selangit-4-pegawai-apotek-ditangkap-7L6tTrTXtn.jpg Polisi menangkap pegawai apotek karena jual obat terapi Covid-19 melebihi HET (Foto: Abdullah M Surjaya)

BEKASI – Kepolisian Resor Metropolitan Bekasi menangkap empat pegawai apotek sebagai tersangka kasus penjualan obat tidak sesuai harga eceran tertinggi atau HET. Keempat tersangka itu terancam hukuman pidana lima tahun penjara. Sebab, obat tersebut merupakan obat pencegah Covid-19.

Kasat Reskrim Polres Metro Bekasi, AKBP Andi Oddang menjelaskan pengungkapakan kasus ini berdasarkan laporan masyarakat. Pihaknya langsung melakukan penyelidikan dan mendatangi apotek sesuai informasi masyarakat tersebut.

”Ternyata benar, mereka menjual obat, khususnya obat antivirus di atas harga eceran tertinggi yang tetap ditetapkan Kemenkes,” katanya.

Menurut dia, keempat tersangka itu merupakan pegawai dari dua lokasi apotek berbeda selain karyawan, mereka asisten apoteker. Tersangka RH pegawai apotek BL di kawasan Jalan Industri, Kecamatan Cikarang Utara. Lalu, tersangka RM, IDS, dan RW dari pegawai apotek MF di Jalan Raya Imam Bonjol, Kecamatan Cikarang Barat.

Berdasarkan penelusuran petugas, mereka menjual obat jenis Fluvir 75 mg Rp 27.500 sedangkan HET Rp 26.000. Untuk per tablet kentuan HET Rp1.700 akan tetapi dijual dengan harga Rp5.000. Kemudian obat Azithromycin 500 mg harga Rp1.700 per tablet dijual Rp13.333 ribu per tablet dan itu tidak sesuai dengan aturan dari pemerintah.

Kemudian, mereka beralasan menjual harga tinggi itu demi mendapatkan keuntungan lebih banyak. Padahal sudah tegas Kementerian Kesehatan mengeluarkan HET sejumlah jenis obat untuk penanganan Covid-19. Intruksi Kapolri juga sangat jelas agar dilakukan penindakan jika ada apotek menjual obat diatas harga eceran tertinggi.

”Para tersangka tidak dilakukan penahanan, apotek juga tidak disegel karena sesuai surat edaran Kapolri terkait masalah ini. Karena untuk menjaga peredaran obatan-obatan Covid-19 ini tidak terganggu,” ungkapnya. Namun, pemilik apotektak menutup kemungkinan akan dijadikan tersangka dalam kasus ini.

Sebab, dari hasil pemeriksaan pemilik apotek ini mengetahui juga obat-obat itu dijual diatas harga eceran tertinggi.”Mereka tidak menimbun karena tidak sempat menimbun, tapi pembelian terbatas dan ini kasus menjual obat diatas HET. Jadi kasus ini masih terus kami dalami, agar kejadian serupa tidak kembali terjadi,” tegasnya.

Adapun barang bukti yang diamankan dari apotek MF, delapan strip atau 48 tablet obat Azithromycin 500 gram, dan satu lembar nota pembelian atas tiga strip Azithromycin 500 gram. Dari apotek BL barang buktinya 10 tablet obat Fluvir 75 mg, 5 Tablet obat Azithromycin 500 mg, faktur pembelian beserta invoice.

Kemudian kwitansi penjualan atas 1 box obat Fluvir 75 mg, dan 5 Tablet obat Azithromycin 500 mg pada 22 Juli 2021.Keempat tersangka itu dijerat Pasal 62 Juncto 10 huruf (a) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Para tersangka dikenakan pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana denda paling banyak Rp2 miliar.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini