Usai Dengarkan Pidato Jokowi, Anies Menyelami Buku-Buku Perintis Kemerdekaan

Bima Setiyadi, MNC Portal · Senin 16 Agustus 2021 12:53 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 16 338 2456286 usai-dengarkan-pidato-jokowi-anies-menyelami-buku-buku-perintis-kemerdekaan-xfhKJDJ98O.jpg Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (Foto: Twitter Anies Baswedan)

JAKARTA - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyusuri kembali deretan buku-buku pemikiran para perintis kemerdekaan yang ada di perpustakaan rumahnya. Hal tersebut dilakukan usai mendengarkan pidato kenegaraan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di sidang Tahunan MPR, Senin 16 Agustus 2021.

"Pagi tadi di jeda antara dua sidang: setelah mendengarkan Pidato Kenegaraan Presiden di sidang Tahunan MPR, dan menunggu dimulainya Sidang Tahunan DPR, menyusuri kembali deretan buku-buku pemikiran para perintis kemerdekaan yg ada di perpustakan rumah," tulis Anies dalam akun instagramnya @aniesbaswedan dikutip Senin (16/8/2021).

Baca Juga:  Anies: Tes Covid-19 di Jakarta Pernah Capai 24 Kali Lipat Standar WHO

Anies menilai para perintis kemerdekaan adalah intelektual pejuang. Mereka bekerja dengan memiliki pemikiran yang matang. Semua punya gagasan. Artikulasi dalam lisan dan tulisan mencerminkan bobot keterbukaan dan keluasan pandangan.

Menariknya bagi Anies, mereka berlatarbelakang keluarga papan atas di masa kolonial, sehingga dapat kesempatan sekolah, tapi mereka memilih untuk mendirikan sebuah republik yang bukan hanya untuk kaum papan atas. Mendirikan republik yang memberikan kesempatan setara pada siapa saja.

"Saya buka sebuah buku karya Jenderal Besar AH Nasution, berkisah tentang perjuangan fisik sesudah proklamasi. Karena memang, merebut kemerdekaan adalah perjuangan intelektual, perjuangan politik. Sesudah merdeka, barulah mulai ada peperangan untuk mempertahankan kemerdekaan," ujarnya.

Melihat kembali buku-buku ini terasa benar bahwa mereka adalah politisi berkapasitas intelektual tinggi. Pikiran-pikirannya mewarnai kebijakan. Wajar jika mereka terbiasa dengan debat dan bahkan kritik. Pertukaran pikiran adalah bagian dari ikhtiar bersama untuk kemajuan negara.

Di dinding perpustakaan, lanjut Anies terpampang lukisan Bung Karno dan Bung Hatta. Mereka berdualah yang berdiri di depan mikrofon memproklamasikan kemerdekaan. Tapi di balik mereka berdua ada ratusan, bahkan ribuan, orang perintis kemerdekaan yang berjuang lintas waktu hingga bisa merdeka.

Baca Juga:  Jokowi: Pemerintah Komitmen Hapus Kemiskinan Ekstrem

Peristiwa Kebangkitan Nasional 1908 ke Sumpah Pemuda 1928 adalah 20 tahun lamanya. Dari tahun 1928 ke 1945 adalah 17 tahun lamanya. Bagi Anies sekarang, rentang waktu perjuangan 20 tahun atau 17 tahun bisa diceritakan dalam waktu 10 menit saja. Tapi Ingatlah, bagi yang berjuang; masa 17 tahun itu amatlah panjang.

"Mari kita terus ingat dan camkan bahwa kemerdekaan itu bukan sekedar untuk menggulung kolonialisme, kemerdekaan itu adalah untuk menggelar keadilan sosial dan kesejahteraan. Ini tugas kita bersama untuk menuntaskannya. Dirgahayu Republik Indonesia!" pungkasnya.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini