Kronologi Direktur Perusahaan Disekap 3 Hari di Hotel, Diduga Pengadaan Alutsista

Tim Okezone, Okezone · Senin 30 Agustus 2021 21:50 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 30 338 2463551 kronologi-direktur-perusahaan-disekap-3-hari-di-hotel-margo-diduga-pengadaan-alutsista-o6wIolaRNh.jpg ilustrasi: shutterstock

JAKARTA - Seorang pengusaha asal Kota Depok, Jawa Barat, bernama Handiyana Sihombing (44) disekap dan dianiaya selama tiga hari di Hotel Margo di Jalan Margonda Raya, Depok, Jawa Barat.

(Baca juga: Anies: Jakreatifest Berpotensi Pulihkan Ekonomi Jakarta)

"Saya masih trauma, istri saya juga sama. Saya pun merasa keselamatan saya tidak terjamin saat ini. Saya belum berani pulang ke rumah sampai sekarang," kata Handiyana beberapa waktu lalu.

Menurutnya, penyekapan dengan kekerasan tersebut berlangsung sejak Rabu, 25 hingga sampai dengan Jumat, 27 Agustus 2021.

(Baca juga: Kasat Intel dan Kabagops Polres Jakpus Dikeroyok Massa Habib Rizieq)

Dia berhasil selamat dari penyekapan tersebut pada Jumat, 27 Agustus 2021 sore, setelah berteriak meminta tolong yang membuat pihak keamanan hotel pun turun tangan dan melaporkan kejadian penyekapan dengan kekerasan ini kepada pihak Polres Metro Depok.

Handiyana mengaku mengalami kekerasan fisik maupun mental selama dalam proses penyekapan yang dilakukan pelaku. Handiyana menduga dilakukan oleh pihak suruhan perusahaan tempat Handiyana bekerja yang menjabat sebagai direktur utama.

Ia mengaku disekap selama tiga hari oleh pesuruh pihak perusahaan tersebut untuk menyerahkan seluruh aset dan harta kekayaan karena dianggap telah melakukan penggelapan uang perusahaan selama dirinya bekerja.

Handiyana mengaku diangkat menjadi direktur utama di perusahaan tersebut pada 6 Juli 2021 yang berlaku selama 5 tahun. Pemilik perusahaan juga memberikan kepemilikan saham di perusahaan tersebut. Ia keberatan jika disebut melakukan penggelapan uang perusahaan.

"Seolah mengelapkan uang perusahaan. Seharusnya kalau ada kerugian maka harus ada dasar audit keuangan dahulu, tapi ini kan tidak ada. Semuanya atas dasar tuduhan," katanya.

Dia mengaku ditekan untuk menandatangani surat pernyataan telah menggelapkan uang perusahaan dan ditekan untuk menandatangani pernyataan. "Saya diancam dan dipukul supaya mengakui dan akhirnya menandatanganinya," katanya.

Handiyana menyebut semua barang kekayaan dan aset miliknya telah diserahkannya, bahkan rumah yang telah lama ditempatinya di wilayah Kalimulya juga mau diambil oleh mereka.

Ia mengaku sudah serahkan semua, tapi katanya masih kurang, sehingga saya ditekan untuk menandatangani surat pengakuan penggelapan uang, bahkan rumah orang tua saya di kampung juga didatangi oleh mereka agar mau menyerahkan aset yang saya punya.

Kasat Reskrim Polres Metro Depok, AKBP Yogen Heroes Baruno menjelaskan, penyekapan ini karena Handiyana dituding menggelapkan duit perusahaan tempatnya bekerja. Namun dia tak menjelaskan apa nama perusahaannya.

“Korban mendapatkan tugas sebagai pengadaan. Kalau tidak salah terkait pengadaan alutsista, kita tidak mendalami ke sana,” kata dia.

Handiyana diketahui sebagai perantara dari perusahaannya ke perusahaan lain dalam proyek pengadaan alutsista (alat utama sistem senjata). Handiyana memegang duit perusahaan senilai Rp 73 miliar.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini