Share

Kapolda Metro Jaya: Gerakan Khilafatul Muslimin Invisible Crime

Erfan Maaruf, iNews · Kamis 16 Juni 2022 15:13 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 16 338 2612713 kapolda-metro-jaya-gerakan-khilafatul-muslimin-invisible-crime-8qNNqXb57C.jpg Kapolda Metro Jaya, Irjen Fadil Imran (Foto: Jonathan Simanjuntak)

JAKARTA - Kapolda Metro Jaya Irjen Fadil Imran menilai gerakan organisasi masyarakat (Ormas) Khilafatul Muslimin sebagai kejahatan yang tersembunyi atau invisible crime. Mereka menyembunyikan aksi pelanggaran hukum melawan Pancasila dengan cara-cara tersembunyi.

"Kejahatan tersebut bergerak di bawah bayangan dan kegelapan, berada di sudut gelap sisi kehidupan yang tidak terawasi, berlindung dan berbaur dalam praktik-praktik sosial, politik, ekonomi, keagamaan, dan kemasyarakatan yang dikenal sebagai hidden crimes atau invisible crimes," ujar Fadil Imran di Polda Metro Jaya, Kamis (16/6/2022).

Fadil menjelaskan perilaku Khilafatul Muslimin pada dasarnya bukan sekedar pelanggaran hukum pidana konvensional. Disebutnya, kejahatan yang dilakukan oleh Khilafatul Muslimin sudah masuk dalam kategori offences against the state karena telah menantang legitimasi dan kedaulatan dari negara demokratis yang sah.

"Mengancam pilar-pilar berbangsa dan bernegara. Merusak nilai, asas, dan tatanan empat pilar kebangsaan," tegas Fadil.

Baca juga: Khilafatul Muslimin Bikin Madrasah di Wonogiri, Polisi Amankan 7 Anggota

Sementara itu, Ditkrimum Polda Metro Jaya, Kombes Pol Hengki Haryadi menyebut pemimpin ormas Khilafatul Muslimin, Abdul Qadir Hasan Baraja memproklamirkan dirinya sebagai penerus kekhilafan Islam pascawafatnya Nabi Muhammad SAW pada 11 hijriah atau 632 masehi.

Hasan Baraka sendiri mendirikan Ormas Khilafatul Muslimin pada tahun 1997 silam.

Baca juga: Bekukan 21 Rekening Khilafatul Muslimin, PPATK: Untuk Putus Urat Nadi Organisasi

"Abdul Qadir Hasan Baraja selaku pimpinan tertinggi organisasi (amirul mu'minin) menganggap dirinya sebagai penerus kekhalifahan (khalifah nomor 105) pasca meninggalnya Rasulullah SAW," kata Hengki.

Dalam kasus ini, Polda Metro Jaya telah menangkap enam orang pertama pemimpin tertinggi Khilafatul Muslimin, Abdul Qadir Hasan Baraja di Lampung, kemudian AA, IN, F, dan SW ditangkap di Lampung, Medan, dan Bekasi. Terakhir AS yang berperan sebagai menteri pendidikan ditangkap di Mojokerto, Jawa Timur.

Akibat perbuatannya, keempat anggota Khilafatul Muslimin ini sudah ditetapkan sebagai tersangka. Mereka disangkakan dengan Pasal 59 ayat 4 dan 82 ayat 1 UU Nomor 16 Tahun 2017 tentang Ormas. Kemudian pasal 14 ayat 1 dan 2, dan atau pasal 15 UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana dengan ancaman penjara minimal lima tahun dan maksimal 20 tahun penjara.

Baca juga: BNPT Rehabilitasi Siswa di 30 Sekolah Terafiliasi Khilafatul Muslimin

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini