Share

Kualitas Udara Jakarta Terburuk Ketiga di Dunia, Ini Penjelasan BMKG

Binti Mufarida, Sindonews · Minggu 19 Juni 2022 13:37 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 19 338 2614193 kualitas-udara-jakarta-terburuk-ketiga-di-dunia-ini-penjelasan-bmkg-y6RdOiF4Jf.jpg Polusi udara di Jakarta (Foto : Okezone.com)

JAKARTA - Kualitas udara di wilayah daerah Jakarta dalam beberapa hari terakhir menjadi perhatian publik. Pasalnya, terjadi peningkatan konsentrasi PM2.5 sehingga menempatkan Jakarta masuk kategori kota dengan kualitas udara termasuk yang terburuk di dunia.

Bahkan dilhihat dari situs IQAir, kualitas udara di Jakarta tercatat menjadi yang terburuk ketiga di dunia pada Sabtu 18 Juni 2022.

“Khusus pada beberapa hari terakhir PM2.5 mengalami lonjakan peningkatan konsentrasi dan tertinggi berada pada level 148 µg/m3. PM2,5 dengan konsentrasi ini dapat dikategorikan dalam kategori kualitas udara tidak sehat,” ungkap Plt. Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Urip Haryoko dikutip dari keterangan resminya, Minggu (19/6/2022).

Diketahui, PM2.5 merupakan salah satu polutan udara dalam wujud partikel dengan ukuran yang sangat kecil, yaitu tidak lebih dari 2,5 µm (mikrometer). Dengan ukurannya yang sangat kecil ini, PM2.5 dapat dengan mudah masuk ke dalam sistem pernapasan, dan dapat menyebabkan gangguan infeksi saluran pernapasan dan gangguan pada paru-paru.

Selain itu, PM2.5 dapat menembus jaringan peredaran darah dan terbawa oleh darah ke seluruh tubuh. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya gangguan kardiovaskular seperti penyakit jantung koroner.

Urip mengatakan peningkatan konsentrasi PM2.5 di wilayah Jakarta dan sekitarnya dalam beberapa hari terakhir dipengaruhi oleh beberapa faktor yakni dipengaruhi oleh berbagai sumber emisi baik yang berasal dari sumber lokal, seperti transportasi dan residensial, maupun dari sumber regional dari kawasan industri dekat dengan Jakarta.

Kemudian, kata Urip, adanya proses pergerakan polutan udara seperti PM2.5 dipengaruhi oleh pola angin yang bergerak dari satu lokasi ke lokasi yang lain. Angin yang membawa PM2.5 dari sumber emisi dapat bergerak menuju lokasi lain sehingga menyebabkan terjadinya potensi peningkatan konsentrasi PM2.5.

“Pola angin lapisan permukaan memperlihatkan pergerakan massa udara dari arah timur dan timur laut yang menuju Jakarta, dan memberikan dampak terhadap akumulasi konsentrasi PM2.5 di wilayah ini,” paparnya.

Selain itu, adanya peningkatan konsentrasi PM2.5 memiliki korelasi positif atau hubungan yang berbanding lurus dengan kadar uap air di udara yang dinyatakan oleh parameter kelembapan udara relatif.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut bersama Lifebuoy x MNC Peduli Tengah Berlangsung!

Pada beberapa hari terakhir, kata Urip, tingginya kelembapan udara relatif menyebabkan peningkatan proses adsorpsi yang dalam istilah teknisnya merujuk pada perubahan wujud dari gas menjadi partikel. “Proses ini menyebabkan terjadinya peningkatan konsentrasi PM2.5 yang difasilitasi oleh kadar air di udara,” katanya.

Selain itu, Urip mengatakan bahwa kelembapan udara relatif yang tinggi dapat menyebabkan munculnya lapisan inversi yang dekat dengan permukaan. Lapisan inversi merupakan lapisan di udara yang ditandai dengan peningkatan suhu udara yang seiring dengan peningkatan ketinggian lapisan.

Urip juga mengatakan dampak dari keberadaan lapisan inversi menyebabkan PM2.5 yang ada di permukaan menjadi tertahan, tidak dapat bergerak ke lapisan udara lain, dan mengakibatkan akumulasi konsentrasinya yang terukur di alat monitoring. Sehingga, berdampak pada penurunan kualitas udara di Jakarta ini memberikan pengaruh negatif pada individu yang memiliki riwayat terhadap gangguan saluran pernapasan dan kardiovaskuler.

“Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk dapat mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan pelindung diri seperti masker yang sesuai untuk dapat mengurangi tingkat paparan terhadap polutan udara,” imbau Urip.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini