Share

Cerita Korban Selamat Banjir Bandang Pamijahan Bogor: Air Datang di Waktu Salat Maghrib

Putra Ramadhani Astyawan, Okezone · Jum'at 24 Juni 2022 21:59 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 24 338 2617827 cerita-korban-selamat-banjir-bandang-pamijahan-bogor-air-datang-di-waktu-salat-maghrib-p8Csf1lwhv.JPG Banjir Bandang di Pamijahan Bogor (Foto: Okezone/Putra)

BOGOR - Bencana banjir dan longsor melanda wilayah Desa Cibunian, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor. Bencana tersebut meratakan rumah hingga memutus beberapa jembatan akses warga sekitar.

Pantauan MNC Portal, salah satu jembatan yang putus berada di Kampung Cimanggu. Terlihat, jembatan yang cukup lebar itu putus diterjang banjir.

Beberapa bangunan rumah warga yang berada di pinggir Kali Cisarua itu pun nampak rata dengan tanah. Kolam ikan atau tambak milik warga juga hanyut terbawa banjir bercampur lumpur dan batu.

Salah satu warga Ocang (50) mengatakan akses jembatan putus di kampungnya karena diterjang banjir itu akses utama dari Kampung Cimanggu dengan Purasari, Kecamatan Leuwiliang.

"Ini Desa Cibunian, kampungnya Cimanggu. Ini bisa juga akses ke Purasari, Leuwiliang," kata Ocang kepada wartawan di lokasi, Jumat (24/6/2022).

Ocang menceritakan detik-detik sebelum banjir melanda kampungnya pada Rabu 22 Juni 2022. Banjir diawali dengan suara gemuruh dari hulu kali dan beberapa pohon besar di pinggiran roboh.

"Mula-mula biasa aja, tiba-tiba naik. Jam 6 waktu salat Magrib semua masuk dikarenakan air mulai surut. Ternyata begitu sembahyang pohon ini udah kedengeran, ternyata jatuh kena air besar," jelasnya.

Dirinya pun langsung melompat melalui dapur untuk menyelamatkan diri. Setelah berhasil keluar, air yang lebih besar datang dan menghancurkan rumahnya.

"Saya sendirian karena istri udah lari ke sana gitu. Rumah kena air, ini air dari sana ada suara kayak angin puting beliung. Ternyata air datang, pas saya lihat dari pintu belakang, ada air segini sedada. Saya lompat jatuh, saya mandi lumpur," ungkap Ocang.

Baca Juga: Peringati Hari Lahir Pancasila, Pengawas KKP Lakukan Upacara Bawah Laut

Pengakuannya, banjir kali ini yang terparah sejak puluhan tahun silam. Beruntung dirinya masih bisa menyelamatkan diri keluar dari rumah.

"Kata orang tua (banjir besar terakhir) tahun 1946. Kalau yang terendam mah ada 15 yang terdampak di sini. Kemarin nggak sempat ngambil apa-apa di sini, air ombak kayak laut masuk," tuturnya.

Senada dengan Ocang, warga lainnya Endang (45) juga menjadi korban terdampak banjir ini. Beruntung, nyawanya dan keluarga masih selamat dari banjir.

"Alhamdulillah mertua saya buru-buru keluar dari rumah dan langsung aja lari ke atas, ke rumah saya. Cuma kalau harta benda gak bisa di selamatkan udah terbawa hanyut semua," ucap Endang.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini