Share

Siswi SMKN 3 Tangsel Ngaku Dibully Sejumlah Guru, Pihak Sekolah Klarifikasi dan Minta Maaf

Hambali, Okezone · Rabu 16 November 2022 03:30 WIB
https: img.okezone.com content 2022 11 16 338 2708346 siswi-smkn-3-tangsel-ngaku-dibully-sejumlah-guru-pihak-sekolah-klarifikasi-dan-minta-maaf-65JDRGad7q.jpg Ilustrasi/ Doc: Hambali

TANGSEL - Seorang siswi SMKN 3 Tangerang Selatan (Tangsel), AN, mengaku telah dibully verbal sejumlah guru hingga mengalami tekanan mental. Selang beberapa hari usai kejadian, siswi kelas 3 tersebut tak lagi masuk kelas hingga saat ini.

Karena putrinya tertekan secara psikologis, sang ayah berinisial S lantas berencana memindahkan AN ke sekolah lain. Hal itu dilakukan S guna menghindari depresi berkepanjangan AN yang disebut tak mau lagi mendatangi sekolah.

 BACA JUGA:Biden Tak Ikut Gala Dinner G20, Gedung Putih Pastikan Bukan karena Positif Covid-19

"Ada kata-kata yang disebutkan antara lain bahwa siswa d**lek, nggak ada pikirannya, nggak ada adab, nggak ada malunya, terus juga ngomongin masalah privasi rumah tangga saya kepada anak. Sejak itu anak saya hingga hari ini sudah tidak mau bersekolah di sekolah tersebut," kata S, Selasa (15/11/22).

Kejadian itu telah diadukan kepada Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) pada Senin 24 Oktober 2022. Orangtua AN menyebut jika ada 3 orang guru yang turut membully putrinya di salah satu ruang sekolah.

 BACA JUGA:Gempa M 4,9 Guncang Sumur-Banten, Berpusat di Darat

P2TP2A telah mendatangi sekolah dan mengonfirmasi soal aduan orangtua AN. Ketiga guru pun turut dimintai keterangan. Mediasi sempat dijalankan antara pihak sekolah dengan orangtua siswi. Namun, salah satu permintaan orangtua tak disanggupi pihak sekolah hingga kasus ini pun terancam masuk ranah hukum.

Dikonfirmasi terpisah, pihak SMKN 3 menganggap apa yang dilaporkan soal bullying verbal terhadap siswi AN terlalu berlebihan. Saat kejadian, oknum guru di ruangan hanya menegur serta mengingatkan agar AN tak mencontoh perilaku yang pernah disampaikan orangtuanya saat ada kunjungan home visit wali kelas.

"Dari guru memang ada perkataan yang katanya disampaikan apa namanya, nikah muda misalnya begitu kan. Dia mengambil contoh karena ketika home visit, si ibunya itu cerita bahwa kakak-kakaknya (AN) itu nikah muda. Kemudian si guru tersebut bilang, nah kamu itu jangan seperti itu nikah muda, kamu bisa membanggakan orangtua lebih dari kakak kamu. Nah mungkin dari anaknya itu hanya mengambil sepotongnya itu, bahwa nikah muda, seolah sekolah masuk ke ranah keluarga," jelas Wakil Kepala Sekolah SMKN 3 Bidang Kesiswaan, Toni.

Pemanggilan oleh guru terhadap AN saat kejadian, dilatarbelakangi ketidakhadirannya di sekolah pada beberapa waktu. AN beralasan sakit. Namun, kata Toni, saat guru datang membesuk ke rumah nampak AN terlihat baik-baik saja.

"Kalau di keterangannya sakit, tetapi ketika kita jenguk, ketika kita home visit ke rumahnya memang baik-baik aja tidak ada masalah. Kita juga sering komunikasi dengan orangtuanya, kita coba sampaikan ke orangtuanya terkait perkembangan anak, permasalahan anak di sekolah, tapi tidak ada respon dari orangtua," paparnya lagi.

Follow Berita Okezone di Google News

Dijelaskan Toni, dalam mediasi orang tua siswi dengan pihak sekolah yang dihadiri P2TP2A, ketiga oknum guru sebenarnya telah meminta maaf atas ucapannya terhadap AN. Pihak sekolah pun memersilahkan agar AN masuk kembali dan mengurungkan rencana pindah sekolah.

"Permintaan maaf mungkin atas dugaan perkataan perundungan tadi secara lisan, meminta maaf ke orangtua, dan dari orangtua juga sudah memaafkan, tidak ada permasalahan lagi," tuturnya.

Namun rupanya, usai mediasi kasus itu terus berlanjut. Toni menduga, mandegnya mediasi disebabkan keinginan orangtua AN yang disampaikan melalui mediator di mana ada permintaan sejumlah dana kompensasi pada pihak sekolah guna membiayai pengurusan pindah sekolah.

"Saya kira dari perundingan kemarin sudah selesai, ternyata memang ada hal lain yang diinginkan oleh orangtua tersebut. Kita juga belum mengambil jalur lain, kita hanya sebatas komunikasi dengan kepala sekolah, dengan komite juga kita sampaikan. Rencananya kemarin itu dari komite ingin bertemu dengan orangtua yang bersangkutan," ucapnya.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini